MAKALAH
PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN
TUGAS PORTOFOLIO 2
Tugas
ini dibuat untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas &
Keberbakatan
Dosen Pengajar :
NITA SRI
HANDAYANI, SPsi
Disusun Oleh :
LAILATUN
NAFILLAH (15514967)
PRISKILA
THEODORA (18514533)
RANNY KHOIRUNISA (18514928)
1PA15
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat ALLAH SWT, atas segala berkat,
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Tugas Portofolio 2”.
Makalah ini
dibuat dalam rangka memahami teori-teori mengenai kreativitas dan keberbakatan
serta segala yang berkaitan dengannya. Selain itu, tugas
ini dibuat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang mahasiswa, serta untuk
memenuhi nilai tugas Mata
Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan. Dalam proses
pembuatan makalah ini tentu penulis mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan
saran. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu Nita Sri Handayani,
SPsi selaku dosen Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan serta
rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan aspirasinya dalam pembuatan
makalah.
Akhir kata
semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada
khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari
sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun
demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.
Bekasi, April
2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Bakat adalah
anugrah yang tidak boleh disia – siakan dan harus dikembangkan secara maksimal.
Setiap manusia terlahir dengan memiliki bakat tertentu. Bakat adalah sesuatu
yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk
membangkitkan dan mengembangkannya Seperti halnya bakat, kreativitas yang
dimiliki oleh seseorang juga anugrah yang harus dipergunakan secara tepat
sasaran.
Kreativitas,
disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan
masyarakat , juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kreativitas
erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kreativitas selalu berada dibelakang
sebuah penemuan besar.
Kreativitas dan
bakat sangat dibutuhkan individu untuk bisa melewati seleksi alam. Perpaduan
keduanya juga sangat diperlukan untuk menghasilkan produk kreativitas yang
bermanfaat. Maka dari itu, Pemakalah mengangkat tema kreativitas dan
keberbakatan.
Dalam kehidupan
ini kreativitas sangat penting, karena kreativitas merupakan suatu kemampuan
yang sangat berarti dalam proses kehidupan manusia. Kreativitas melahirkan pencipta besar yang
mewarnai sejarah kehidupan umat manusia dengan karya-karya spektakulernya.
Seperti Bill Gate si raja microsoft, JK
Rolling dengan novel Harry Poternya, Ary Ginanjar dengan ESQ (Emotional & Spiritual Question) ,
penulis Pramudia Anatatur dengan karya-karyanya yang tak lekang oleh
waktu, penyanyi Kris Dayanti, Melly
Goeslow, Seniman Titik Puspa, dll. Apa yang mereka ciptakan adalah karya
orisinil yang luar biasa dan bermakna, sehingga orang terkesan dan memburu
karyanya.
Setiap orang
memiliki potensi kreatif dalam derajat yang berbeda-beda dan dalam bidang yang
berbeda-beda.Potensi ini perlu dipupuk sejak dini agar dapat diwujudkan.Untuk
itu diperlukan kekuatan-kekuatan pendorong, baik dari luar (lingkungan) maupun
dari dalam individu sendiri.Dalam pengembangan kreativitas kita bertitik tolak
dari karakteristik kreativitas yang perlu di pupuk pada setiap orang yang
meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.Motivasi internal ditumbuhkan
dengan memperhatikan bakat dan kreativitas individual, serta menciptakan
suasana yang menjamin keamanan dan kebebasan psikologi untuk mengungkapkan
kreatif setiap orang di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat. Pembelajaran
di sekolah, kegiatan di rumah dan di luar sekolah memnungkinkan sesorang untuk
menyibukan dirinya secara kreatif
(proses).
Kebutuhan akan
kreativitas dirasakan dalam semua aspek kehidupan manusia. Terutama dalam masa
pembangunan dan era globalisasi ini, setiap individu dituntut untuk meluaskan
cakrawala mentalnya agar mampu menghadapi tantangan-tantangan di masa depan.
Oleh karena itu, pengembangan potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada
setiap orang terlebih pada mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar
biasa, perlu dimulai sejak dini baik untuk perwujudan diri pribadi maupun untuk
kelangsungan hidup bangsa dan negara.
B.
Batasan
Masalah
1.
Apa
itu motivasi intrinsik untuk kreativitas?
2.
Apa
saja kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif?
3.
Apa
teori yang melandasi proses kreatif menurut Wallas?
4.
Apa
isi dari teori tentang belahan otak kanan dan kiri?
5.
Apa
isi dan teori tentang Penilaian dalam Hukum Paten?
6.
Apa
isi dan teori tentang besemer dan triffinger?
7.
Apa
isi dan teori tentang penilaian kreatif dan mengarang?
8.
Apa
isi dan teori tentang pengertian keberbakatan?
9.
Apa
isi dan teori tentang pengertian kreativitas?
10.
Apa
isi dan teori tentang hubungan pengertian keberbakatan dan kreativitas?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui motivasi intrinsik untuk
kreativitas.
2.
Untuk
mengetahui kondisi eksternal yang
mendorong perilaku kreatif.
3.
Untuk
mengetahui teori yang melandasi proses kreatif menurut Wallas.
4.
Untuk
mengetahui isi dari teori tentang belahan otak kanan dan kiri.
5.
Untuk
Mengetahui Penilaian dalam Hukum Paten.
6.
Untuk
mengetahui model besemer dan triffinger.
7.
Untuk
mengetahui model penilaian kreatif dan mengarang.
8.
Untuk
mengetahui pengertian keberbakatan.
9.
Untuk
mengetahui pengertian kreativitas.
10.
Untuk
mengetahui hubungan pengertian keberbakatan dan kreativitas.
D.
Manfaat
Penulisan
1.
Menambah
wawasan mengenai kreativitas dan keberbakatan.
2.
Mengetahui
pandangan para tokoh mengenai proses kreativitas dan keberbakatan.
3.
Mengetahui
teori-teori tentang kreativitas dan keberbakatan.
BAB II
PEMBAHASAN
I.
TEORI
PENDORONG KREATIVITAS
A.
Motivasi
Intrinsik Untuk Kreativitas
Setiap individu
memiliki kecenderungan atau dorongan untuk dapat mewujudkan potensi dan bakat
yang dimilikinya, mewujudkan dirinya, dorongan berkembang menjadi lebih matang,
dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitasnya yang sering dikenal
dengan mengaktualisasikan dirinya secara nyata.Motivasi intrinsik adalah
motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang melakukan
tindakan atau perilaku tidak berasal
dari motif-motif atau dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri. Motivasi
intrinsik merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak
perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan
untuk melakukan sesuatu.Motivasi Intrinsik juga dikatakan sebagai motivasi internal
untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).
Kreativitas
setiap individu, dalam organisasi sebagai ilustrasi, ditentukan oleh tiga
komponen: keahlian, keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi. Keterampilan
berpikir kreatif menentukan seberapa fleksibel dan imajinatif orang-orang dalam
organisasi saat menghadapi masalah.Niat dari dalam diri untuk memecahkan
masalah yang ada, biasanya justru membawa pada solusi-solusi yang lebih
kreatif.Ketimbang misalnya bila motivasi memecahkan masalah itu muncul atau ada
karena ingin memperoleh imbalan finansial.Komponen motivasi ini disebut
motivasi intrinsik.Ini merupakan salah satu motivasi yang dapat dengan cepat
dipengaruhi keberadaannya oleh kondisi lingkungan kerja.
Berbeda dari
motivasi ekstrinsik, motivasi intrinsik berkaitan dengan keinginan dan minat
dari dalam diri untuk melakukan sesuatu (internal desire) yang mulia. Orang
akan lebih kreatif bila ia merasa termotivasi, utamanya oleh karena minat,
kepuasan, dan tantangan dari pekerjaan itu sendiri. Jadi, termotivasi bukan
karena tekanan-tekanan eksternal, seperti uang atau kendali ketat sang atasan.
Mumford dan Gastafson (1988 dalam Ng Aik Kwang, 2001:4) seorang yang kreatif
terbuka untuk menerima pengalaman hidup, memiliki minat dalam hidup dan
tertarik untuk mendalami ide-ide yang kompleks, sehingga dapat mengembangkan
dan menggunakan model mental yang kompleks untuk memecahkan masalah dalam dunia
nyata. Walaupun kerja kreatif telah dijadikan pertimbangan, namun model mental
yang kompleks belum mencukupi. Karena Kreativitas sebagai ide yang abstrak dan
tidak dapat diukur (untested) harus diterjemahkan menjadi tindakan yang
konkret. Kreativitas dengan menggunakan teknik penilaian secara konsensus
(consensual assesment technique) (Ng Aik Kwang, 2011:5).
Ambile
menyatakan suatu produk atau respon disebut kreatif apabila beberapa penelitian
yang sesuai secara bebas menyetujui bahwa itu disebut kreatif.Peneliti yang
sesuai dalam kompetensi melukis, arsitek dalam kompetensi disain dan penulis
(writers) dalam kompotensi mengarang. Dengan menggunakan teknik penilaian
konsensus terhadap Kreativitas seperti tersebut di atas, Ambile dan teman-teman
telah melakukan pelbagai studi empiris yang menekankan motivasi intrinsik, yang
menyenangi apa yang sedang ia lakukan, dengan tingkah laku kreatif. Peran
penting dari motivasi instrinsik digambarkan oleh Amabile (dalam Ng Aik Kwang,
2001:6) dalam model komponen Kreativitas yang terdiri dari tiga komponen
penting:
1. Keterampilan
dalam ranah yang relevan (domain-relevant skill) yang mengacu pada pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan yang berkaitan dengan ranah khusus dimana seorang
yang kreatif tertarik.
2. Keterampilan
yang relevan dengan Kreativitas (creativity-relevant skill) yang mengacu pada
kemampuan kognisi, seperti kemampuan berpikiran divergen, sebaik seperti
ciri-ciri kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman, kecondongan
(penchant) mengambil resiko, toleransi yang besar terhadap kebermaknaan ganda
(ambiquitas).
3. Terakhir
adalah motivasi intrinsik yang mengacu pada keinginan untuk melakukan suatu
tugas yang masih dipertanyakan. Tanpa adanya motivasi instrinsik ini, ia akan
mengahadapi kesulitan kesulitan untuk tetap pada jalurnya atau pendapatnya,
terutama dengan banyaknya hambatan yang ia hadapi, misalnya hadiah eksternal
yang mempengaruhi untuk meninggalkan idenya.
Pendekatan
sistem, ketiga pendekatan yang telah diuraikan di atas masih memerlukan adanya
aspek kunci, karena Kreativitas tidak ada akan terjadi dalam keadaan sosial yang
hampa (vacum). Sebaliknya justru terdapat hubungan yang erat antara seseorang
yang kreatif dengan dunia sosialnya, dimana ia dapat menbentuk aktivitas
kreatifnya.
B.
Kondisi
Eksternal yang Mendorong Perilaku Kreatif
Kreativitas
dapat berkembang dalam suasana non-otoriter, yang memungkinkan individu untuk
berpikir dan menyatakan diri secara bebas, dan di mana sumber dari pertimbangan
evaluatif adalah internal (Rogers, dalam Vernon, 1982).
Carl Rogers
(dalam Vernon, 1982) menegaskan bahwa satu persyaratan utama bagi
berkembangannya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan.Kebebasan
untuk berpikir, menyatakan pikiran, mencipta, yang dapat kita ringkaskan pada
moyangnya segala rupa kebebasan yang menjadi hak asasi manusia, yakni adanya
kebebasan melakukan pilihan (freedom of choice).
Menurut
pengalaman Rogers dalam psikoterapi, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan
psikologis memungkinkan timbulnya kreatifitas yang konstruktif.
1. Keamanan Psikologis
Menerima
individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya
(memberi kepercayaan, yang dapat memberi efek menghayati suasana keamanan).
Mengusahakan suasana yang ada didalamnya evaluasi eksternal tidak ada (atau
sekurang-kurangnya tidak bersifat atau punya mempunyai efek mengancam).
Memberikan pengertian secara empatis (dapat ikut menghayati) perasaan,
pemikiran, tindakan serta dapat melihat sudut pandang, dan tetap menerimanya,
memberi rasa aman.
2. Kebebasan Psikologis
Jika setiap
orang memiliki kesempatan untuk bebas mengeksperiskan secara simbolis
pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya,
permissiveness ini memberikan pada seseorang kebebasan dalam berpikir
atau merasakan sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya. Mengekspresikan
tindakan konkret perasaan-perasaannya (misalnya dengan memukul) tidak selalu
dimungkinkan, karena hidup dalam masyarakat selalu ada batas-batasnya, tetapi
eksperesi secara simbolis hendaknya dimungkinkan.
Menurut Simpson
dalam Vernon (1982 dalam Utami Munandar 1999:28) dorongan internal merupakan:
“the intiative that one manifest by his power to break away from the usual
sequence pf thought”. Insitiatif yang dimanisfestasikan dengan dorongan untuk
keluar dari seluruh pemikiran biasa. Mengenai dorongan dari lingkungan, ada
lingkungan yang tidak menghargai imajinasi atau fantasi dan menekankan
Kreativitas dan inovasi, kreativitas juga tidak akam berkembang dalam budaya
yang terlalu menekan konformitas dan tradisi yang kurang terbuka terhadap
perubahan atau perkembangan baru (Utami Munandar 1999:28-29).
II.
MENJALANKAN
TEORI-TEORI YANG MELANDASI PROSES KREATIF
A.
Teori
Wallas
Teori wallas
dikemukakan tahun 1926 dalam bukunya “the art of thought” (Piirto, 1992), yang
menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu persiapan (1),
inkubasi (2), iluminasi (3), dan verifikasi (4).
1) Sesorang mempersiapkan diri untuk
memecahkan masalah dengan cara berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang
dan sebagainya.
2) Tahap dimana individu seakan-akan
melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia
tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam
pra-sadar.
3) Tahap timbulnya “insight” atau
Aha-Erlebnis” saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses
psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru.
4) Tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut
harus diuji terhadap realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan
konvergen. Dengan kata lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus
diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).
Cropley (1994)
menunjukkan hubungan antara tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan,
inkubasi, iluminasi, verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi :
hasil berpikir konvergen , memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, jika
dihadapkan dengan situasi yang menuntut tindakan yaitu pemecahan masalah individu menggabungkan unsur-unsur mental
sampai timbul “konfigurasi”. Konfigurasi dapat berupa gagasan, model, tindakan
cara menyusun kata, melodi atau bentuk.
B.
Teori
Tentang Belahan Otak Kanan-Kiri
Pendekatan
psiko-biologis kreativitas adalah pembahasan yang mencoba menjelaskan
kreativitas dengan berdasarkan fungsi biologis organ tubuh manusia khususnya
fungsi otak.Otak besar (cortex) terbagi atas dua belahan yang dihubungkan oleh
sebuah bundelan serabut yang saling menghubungkan (interconnecting) yang
disebut sebagai corpus callosum.Belahan kanan korteks berfungsi untuk
mengontrol tubuh bagian kiri, dan belahan kiri korteks mengontrol tubuh bagian kanan.
Belahan kiri dan
kanan otak menanggapi jenis pengalaman yang berbeda dan menanggapinya secara
khas.Wittrock (1980 dalam Clark, 1988) menyatakan bahwa kedua belahan otak
boleh berbeda satu sama lain karena strategi pengodean yang digunakan dan bukan
karena jenis informasi yang dikodekan. Menurut teori ini, belahan otak kiri
bertanggung jawab bagi pemikian linear, sequential, analytic dan
rational.Sedangkan pemikiran-pemikiran metaphoric, spatial, holistic merupakan
tanggang jawab belahan otak kanan.
Bagan Proses
Pimikiran Otak
|
Otak
Kiri
|
Otak
Kanan
|
|
Vertikal
Kritis
Strategis
Analistis
|
Lateral
Hasil
Kreatif
|
Keterangan:
Berpikir
Vertikal. Suatu proses bergerak selangkah demi selangkah menuju tujuan Anda,
seolah-olah Anda sedang menaiki tangga.
Berpikir
Lateral. Melihat permasalahan Anda dari beberapa sudut baru, seolah-olah
melompat dari satu tangga ke tangga lainnya.
Berpikir Kritis.
Berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat, seperti menilai
kelayakan suatu gagasan atau produk.
Berpikir
Analitis. Suatu proses memecahkan masalah atau gagasan Anda menjadi
bagian-bagian. Menguji setiap bagian
untuk melihat bagaimana bagian tersebut saling cocok satu sama lain, dan
mengeksplorasi bagaimana bagian-bagian ini dapat dikombinasikan kembali dengan
cara-cara baru.
Berpikir
Strategis. Mengembangkan strategi khusus untuk perencanaan dan arah
operasi-operasi skala besar dengan melihat proyek itu dari semua sudut yang
mungkin. Berpikir tentang Hasil.Meninjau tugas dari perspektif solusi yang
dikehendaki. Berpikir Kreatif. Berpikir kreatif adalah pemecahan masalah dengan
menggunakan kombinasi dari semua proses.
Corteks dengan
Corpus Callosum
Sumber: Clark
(1988) : Growing up gifted
Perlu diingat
bahwa kedua belahan otak kanan dan kiri berfungsi saling melengkapi, bekerja
secara kooperatif dalam memproses informasi (Clark, 1988). Sedangkan dikotomi
mental sebagai tercemin dalam uraian fungsi belahan otak kanan dan belahan otak
kiri oleh Springer, S.P dan Deuthsch, G. (1981 dalam Utami Munandar 1999)
Tabel dikotomi
otak :
|
No
|
Belahan Otak
Kiri
|
Belahan Otak
kanan
|
|
1
|
Intelek
|
Intuisi
|
|
2
|
Kovergen
|
Divergen
|
|
3
|
intelektual
|
Emosional
|
|
4
|
Rasional
|
Mataforik, intuitif
|
|
5
|
Verbal
|
Non verbal
|
|
6
|
Horizontal
|
Vertikal
|
|
7
|
Kongkret
|
Abstrak
|
|
8
|
Realistis
|
Impulsif
|
|
9
|
Diarahkan
|
Bebas
|
|
10
|
Diferensial
|
Eksistensial
|
|
11
|
Sekuensial
|
Multipel
|
|
12
|
Historikal
|
Tanpa batas
waktu
|
|
13
|
Analisis
|
Sintesis,
holistik
|
|
14
|
Eksplisit
|
Implisit
|
|
15
|
Objektif
|
Subjektif
|
|
16
|
Suksesif
|
Simultan
|
Sumber:
Springer, S.P. dan Deutch, G. 1981 (dalam Utami Munandar 199)
Dari pandangan
Wittrock (1980) dan Spinger dan Deutch (1981) jelaslah bahwa kreativitas
merupakan fungsi belahan otak kanan, tercermin dari fungsi divergen, metaforik,
intuitif, sintesis, holistik yang semua fungsi tersebut merupakan fungsi
kreativitas.
Otak dapat
distimulus agar memiliki rangsang yang baik.Jika otak memiliki rangsang yang
baik, maka tidak diragukan lagi kinerjanya.Otak kiri memiliki fungsi atau
peranan yang lebih dibanding otak kanan ketika kita sedang berpikir, tentang
intelegensi seseorang, dan rasionalitas, sedangkan otak kanan manusia memiliki
kecenderungan dalam keindahan, seni, dan kegiatan non verbal.
III.
TEORI-TEORI
YANG MELANDASI PRODUK
A.
Penilaian
Produk Penemuan Dalam Hukum Paten
Teori Tentang
Hukum paten dalam Penilaian Produk Penemuan
Hukum paten AS
mempertimbangkan unsur-unsur berikut dalam memberikan hak paten:
ü Kegiatan intelektual yang bermutu
ü Gagasannya jelas
ü Jumlah eksperimentasi penting
ü Telah mengalami kegagalan
ü Berguna dan merupakan kemajuan
ü Kreatif
ü Harus memenuhi kebutuhan yang belum
terpenuhi
Patokan dari
hokum paten cukup membantu,tetapi tidak spesifik untuk penilaian secara ilmiah
dibutuhkan perangkat criteria yang disetujui untuk menilai produk kreatif dan
kemampuan kreatif.
B.
Model
Besemer Dan Treffinger
Produk kreatif
dapat digolongkan menjadi tiga kategori,yaitu:
1. Kebaruan(novelty). Sejauh mana produk itu
baru,tekhnik baru,bahan dan konsep baru,dampak produk terhadap masa depan
2. Pemecahan(resolution). Menyangkut derajat
sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan dari situasi bermasalah. Produk yang
dihasilkan harus bermakna,logis,dan berguna karena dapat diterapkan secara
praktis.
3. Elaborasi dan sintesis. Sejauh mana
produk itu menggabung unsur-unsur yang tidak sama menjadi keseluruhan yang
canggih dan koheren. Produk yang dihasilkan harus organis,elegan,kompleks,dapat
dipahami,dan menunjukkan keterampilan.
C.
Model
Penilaian Kreativitas Dalam Mengarang
Meliputi empat
criteria dari berpikir kreatif,yaitu: kelancaran,kelenturan,keaslian,dan
kerincian.
Menurut Haefele
,Suatu produk kreatif tidak hanya harus baru tetapi juga diakui
kebermaknaannya. Produk yang saya hasilkan memang sudah ada yang membuatnya
dalam bentuk yang lain tetapi produk yang saya hasilkan ada unsure
kebermaknaannya yaitu menghias dinding kamar saya.
IV.
KEBERBAKATAN
DAN KREATIVITAS MENJELASKAN PENGERTIAN KEBERBAKATAN DAN KAITAN DENGAN
PENGERTIAN KREATIVITAS
A.
Pengertian
Keberbakatan
Apa yang
dimaksud “ keberbakatan” dan “ anak berbakat”? Dalam kepustakaan yang ditemukan
berbagai istilah dan definisi mengenai anak berbakat dan keberbakatan. Istilah
ini yang menunjukkan suatu perkembangan dari pendekatan “uni-dimensional” (
seperti definisi dari Terman yang menggunakan inteligensi sebagai criteria
tunggal untuk mengidentifikasi anak berbakat, yaitu IQ 140) ke pendekatan “
multi-dimensional “. Pendekatan ini yang mengakui keragaman konsep dan kriteria
keberbakatan, yaitu memerlukan cara – cara dan alat – alat yang berbeda – beda
pula untuk mengidentifikasinya.
1. Definisi ESOE tentang keberbakatan
Dalam seminar
nasional mengenai Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat yang
diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan
Kebudayaan, Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan bekerja sama
dengan Yayasan Pengembangan Kreativitas pada tanggal 12- 14 November 1981 di
Jakarta ( Utami Munandar, 1982), disepakati bahwa :
Anak berbakat
adalah anak yang oleh orang – orang profesional diidentifikasi sebagai anak
yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan – kemampuan
unggul. Anak – anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi
dan/ atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar dapat
merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan
diri sendiri.
Kemampuan –
kemampuan tersebut, baik secara potensional maupun yang telah nyata, meliputi :
a. Kemampuan intelektual umum
Para pendidik
biasanya mendefinisikan hal ini berdasarkan skor yang tinggi dari hasil tes
inteligensi (biasanya 2 deviasi standar di atas mean) pada pengukuran
individual ataupun kelompok. Orang tua dan guru sering dapat mengenali anak
yang memiliki bakat intelektual umum ini dari keluasan pengetahuan umumnya dan
ketinggian tingkat kosa kata, ingatan, pengetahuan kata-kata abstrak, serta
daya nalar abstraknya
b. Kemampuan akademik khusus
Siswa yang
memiliki bakat akademik spesifik dapat dikenali dari kinerjanya yang menonjol
dalam tes prestasi atau tes bakat dalam satu bidang tertentu seperti bahasa
atau matematika.
c. Kemampuan berpikir kreatif – produktif
Kreativitas yang
menekankan produktivitas kreativitas adalah munculnya hasil ide yang diperoleh
melalui interaksi antara keunikan individu dengan lingkungannya
d. Kemampuan memimpin
Kepemimpinan
dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan individu-individu atau
kelompok-kelompok ke satu keputusan atau tindakan bersama. Siswa yang
menunjukkan keberbakatan dalam kemampuan kepemimpinan mampu menggunakan
keterampilan kelompok dan bernegosiasi dalam situasi- situasi yang sulit.
Banyak guru dapat mengenali kepemimpinan dari minat dan keterampilan siswa
dalam pemecahan masalah. Karakteristik kepemimpinan mencakup rasa percaya diri,
tanggung jawab, kerjasama, kecenderungan untuk mendominasi, dan kemampuan untuk
mengadaptasikan diri dengan mudah pada situasi-situasi baru. Siswa seperti ini
dapat diidentifikasi dengan instrumen-instrumen seperti The Fundamental
Interpersonal Relations Orientation Behavior (FIRO-B).
e. Kemampuan dalam salah satu bidang seni
Bakat seni
merupakan keunggulan dalam menggambar, melukis, memahat, dan berbagai ekspresi
artistik yang dapat ditangkap oleh mata.Sedangkan bakat pertunjukan menunjuk
pada keunggulan baik dalam musik instrumental maupun vokal, teater, dan
tari.Siswa-siswa ini dapat diidentifikasi dengan menggunakan instrumen deskripsi
tugas seperti the Creative Products Scales, yang dikembangkan untuk Detroit
Public Schools oleh Patrick Byrons dan Beverly Ness Parke di Wayne State
University.
f. Kemampuan psikomotor ( seperti dalam
olahraga)
Ini mencakup
kemampuan kinesthetik motor seperti keterampilan praktis, spasial, mekanik, dan
fisik. Kemampuan tersebut jarang dipergunakan sebagai kriteria dalam program
keberbakatan. Definisi ini merupakan adopsi dari definisi U.S. Office of
Education ( Maryland, 1972) dan dalam kepustakaan biasanya disebut sebagai
definisi USEO.
2. Definisi dari Abraham Maslow
Maslow
membedakan antara " kreativitas aktualisasi diri “ kreativitas talenta
khusus”. Orang – orang dengan kreativitas talenta khusus memiliki bakat atau
talenta kreatif yang luar biasa dalam bidang seni, sastra, musik, teater,
sains, bisnis, atau bidang lainnya. Orang – orang ini bisa saja menunjukkan
penyesuaian diri dan aktualisasi diri yang baik, tetapi mungkin juga tidak.
Orang – orang
kreatif yang mampu mengaktualisasi diri adalah sehat mental, hidup sepenuhnya
dan produktif, dan cenderung menghadapi aspek kehidupannya secara fleksibel dan
kreatif. Implikasi dari pembedaan antara keduanya krativitas aktualisasi diri
dan kreativitas talenta khusus adalah penekanan pada pentingnya ciri – ciri
afektif dari kreativitas, ciri kepribadian, sikap, motivasi, dan predisposisi
untuk berpikir kreatif.
3. Konsepsi Renzulli tentang keberbakatan
Konsepsi “
Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan
bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah
keterkaitan antara :
a.
Kemampuan umum di atas rata – rata,
b.
Kreativitas di atas rata – rata, dan
c.
Pengikatan diri terhadap tugas ( task commitment cukup tinggi)
Menurut
Renzulli, anak berbakat adalah mereka yang memiliki atau berkemampuan
mengembangkan gabungan ketiga kelompok sifat tersebut dan mengaplikasikannya
pada bidang kinerja kemanusiaan yang bernilai.
4. Robert Sternberg dan Robert Wagner(1982)
Mendefinisikan
keberbakatan (giftedness) sebagai "a kind of mental self-management".
Manajemen mental kehidupan seseorang yang konstruktif dan bertujuan mempunyai
tiga elemen dasar, yaitu: mengadaptasikan diri pada lingkungan, memilih
lingkungan baru, dan membentuk lingkungan.
Menurut
Sternberg dan Wagner, kunci psikologis dasar keberbakatan intelektual terdapat
dalam keterampilan berwawasan (insight skills) yang mencakup tiga proses utama:
Memisahkan
informasi yang relevan dari informasi yang irrelevan;
Menggabungkan
kepingan-kepingan informasi yang tidak berkaitan menjadi satu keseluruhan yang
terpadu;
Mengaitkan
informasi yang baru diperoleh dengan informasi yang sudah diperoleh sebelumnya.
Sternberg dan
Wagner menekankan kemampuan memecahkan masalah dan memandang siswa berbakat
sebagai individu yang mampu memproses informasi secara cepat dan mempergunakan keterampilan
berwawasan.
B.
Pengertian
Kreativitas
Salah satu
masalah yang kritis dalam meneliti, mengidentifikasi, dan mengembangkan
kreativitas ialah bahwa ada begitu banyak definisi tentang kreativitas, tetapi
tidak ada satu definisi pun yang dapat diterima secara universal. Mengingat
kompleksitas dari konsep kreativitas, agaknya hal ini tidak mungkin dan tidak
perlu, karena kreativitas dapat ditinjau dari berbagai aspek, yang kendatipun
saling berkaitan tetapi penekanannya berbeda – beda. Rodhes (1961, dalam
Isaksen, 1987) dalam menganalisis lebih dari 40 definisi tentang kreativitas,
menyimpulkan bahwa pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi
(person),proses, dan produk. Kreativitas dapat pula ditinjau dari kondisi
pribadi dan lingkungan yang mendorong ( press) individu ke perilaku kreatif.
Rodhes menyebut keempat jenis definisi tentang kreativitas ini sebagai “four
p’s of creativity “,yaitu dimensi Person,Proses, Press dan Product. Kebanyakan
definisi kreativitas berfokus pada salah satu dari empat P ini atau
kombinasinya. Keempat P ini saling berkaitan: pribadi kreatif yang melibatkan
diri dalam menghasilkan produk kreatif, dan dengan dukungan dan dorongan (
press) dari lingkungan menghasilkan produk kreatif. Torrance ( 1988) yang memilih
definisi proses tentang kreativitas, menjelaskan hubungan antara keempat P
tersebut sebagai berikut : dengan berfokus pada proses kreatif, dapat
ditanyakan jenis pribadi yang bagaimanakah akan berhasil dalam proses tersebut,
macam lingkungan yang bagaimanakah akan memudahkan proses kreatif, dan produk
yang bagaimanakah yang dihasilkan dari proses kreatif?
Marilah kita
melihat beberapa definisi tentang kreativitas berdasarkan empat P, menurut para
pakar.
Definisi pribadi
Menurut Hulbeck
(1945) “ tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam
interaksi dengan lingkungannya”. Fokus pada segi pribadi jelas dalam definisi
ini.
Definisi yang
lebih baru tentang kreativitas diberikan dalam “ three-facet model of
creativity” oleh Sternberg (1988), yaitu “kreativitas merupakan titik pertemuan
yang khas antara tiga atribut psikologis : inteligensi, gaya kognitif, dan
kepribadian/ motivasi. Bersama – sama ketiga segi dari alam pikiran ini
membantu memahami apa yang melatarbelakangi individu yang kreatif “.
Inteligensi
meliputi terutama kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perencanaan,
perumusan masalah, penyusunan strategi, representasi mental, ketrampilan
pengambilan keputusan, keseimbangan serta integrasi intelektual secara umum.
Gaya kognitif
atau intelektual dari pribadi yang kreatif menunjukkan kelonggaran dari
keterikatan pada konvensi menciptakan aturan sendiri, melakukan hal dengan
caranya sendiri, menyukai masalah yang tidak terlau terstruktur, senang
menulis, merancang, lebih tertarik pada jabatan yang kreatif, seperti
pengarang, saintis, artis, atau arsitek.
Dimensi
kepribadian/ motivasi meliputi cirri – ciri seperti fleksibilitas, toleransi
terhadap kedwiartian, dorongan untuk berprestasi dan mendapat pengakuan,
keuletan dalam menghadapi rintangan, dan pengambilan risiko yang moderat.
Definisi proses
Definisi pada
dimensi proses upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada
prosesberpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif.
Utami Munandar
menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang
mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam
berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya,
memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek
proses perubahan (inovasi dan variasi). Selain pendapat yang diuraikan diatas
ada pendapat lain yang menyebutkan proses terbentuknya kreativitas sebagai
berikut :
Wallas (1976)
dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001 mengemukakan empat tahapdalam
proseskreatifyaitu :
Tahap Persiapan;
adalah tahap pengumpulan informasi atau data sebagai bahan untukmemecahkan
masalah. Dalam tahap ini terjadi percobaan-percobaan atas dasar berbagai
pemikiran kemungkinan pemecahan masalah yang dialami.
Inkubasi; adalah
tahap dieraminya proses pemecahan masalah dalam alam prasadar. Tahap ini
berlangsung dalan waktu yang tidak menentu, bisa lama (berhari-hari,
berbulan-bulan, bertahun-tahun), dan bisa juga hanya sebentar (hanya beberapa
jam, menit bahkan detik). Dalam tahap ini ada kemungkinan terjadi proses
pelupaan terhadap konteksnya, dan akan teringat kembali pada akhir tahap
pengeraman dan munculnya tahap berikutnya.
Tahap Iluminasi;
adalah tahap munculnya inspirasi atau gagasan-gagasan untuk memecahkan masalah.
Dalam tahap ini muncul bentuk-bentuk cetusan spontan, seperti dilukiskan oleh
Kohler dengan kata-kata now, I see itu yang kurang lebihnya berarti “oh ya”.
Tahap
Verifikasi; adalah tahap munculnya aktivitas evaluasi tarhadap gagasan secara
kritis, yang sudah mulai dicocokkan dengan keadaan nyata atau kondisi realita.
Dari dua
pendapat ahli diatas memandang kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi
didalam otak manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang
lebih inovatif dan variatif (divergensi berpikir).
Definisi produk
Barron ( 1969)
menyatakan bahwa “ kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan /
menciptakan sesuatu yang baru “. Begitu pula menurut Haefele ( 1962) “
kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi – kombinasi baru yang
mempunyai makna sosial “. Definisi Haefele ini menunjukkan bahwa tidak
keseluruhan produk itu harus baru, tetapi kombinasinya.Unsur – unsurnya bisa
saja sudah ada lama sebelumnya.Definisi Haefele menekankan pula bahwa suatu
produk kreatif tidak hanya harus baru tetapi juga diakui sebagai bermakna.
Definisi “
press”
Definisi dan
pendekatan kreativitas yang menekankan faktor press atau dorongan, baik
dorongan internal (diri sendiri) berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta
atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal (dari lingkungan
sosial dan psikologis). Definisi Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999,
merujuk pada aspek dorongan internal dengan rumusannya sebagai “The initiative
that one manifests by his power to break away from the usual sequence of
thought”. Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai
imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas
juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan
kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.
C.
Hubungan
Pengertian Keberbakatan dan Kreativitas
Konsepsi “
Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan
bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah
keterkaitan antara :
1. Kemampuan umum di atas rata – rata,
2. Kreativitas di atas rata – rata, dan
3. Pengikatan diri terhadap tugas ( task
commitment cukup tinggi)
Kemampuan diatas
rata – rata
Salah satu
kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya
kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang
menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman (
1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan
kriteria inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa
inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun
menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan
potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “
kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh
tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir
kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial,
kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas.Kemampuan umum ini merupakan
salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
Kreativitas
diatas rata -rata
Kelompok (
cluster) kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai
kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan
memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan
masalah, atau sebagai kemampuan untuk
melihat hubungan – hubungan baru antara unsur – unsur yang sudah ada
sebelumnya.
Pengikatan diri
terhadap tugas
Kelompok
karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif
ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang
mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun
mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas
tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun
menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “, namun dia
percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan
kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari
definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai
persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi (
pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut
definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi
seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
BAB III
PENUTUP
I.
KESIMPULAN
Kreativitas
lebih bersifat eksplorasi atau pengembangan pemikiran yang bersifat umum
tentang apa saja dan lebih tertumpu kepada individu atau organisasi yang
menggalinya atau mengembangkannya. Terlepas dari kenyataan bahwa daya
kreativitas tentu saja sangat terkait dengan potensi genetik yang diperoleh
seseorang dari orangtuanya.Lingkungan juga mempunyai peranan besar.Tanpa
rangsangan yang tepat, kreativitas anak menjadi kurang maksimal.Mengapa tidak
maksimal?Karena di masa kini, daya kreativitas tertinggi menjadi acuan
kesuksesan.Seperti yang dikatakan (Selo Soemardjan 1983) Timbul dan tumbuhnya
kreativitas dan selanjutnya berkembangnya suatu kresi yang diciptakan oleh
seseorang individu tidak dapat luput dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh
masyarakat tempat individu itu hidup dan bekerja.
Banyak motivasi
internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu tujuan.Sejak anak lahir,
gerakannya belum berdifensiasi, selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan
kecenderungan kiri atau kanan.Hampir setiap orang mempunyai sisi yang
dominan.Pada umunya orang lebih biasa menggunakan tangan kanan (dominasi belahan
otak kiri), tetapi ada sebagian orang kidal (dominan otak kanan).Terdapat
“dichotomia” yang membagi fungsi mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan
belahan otak kiri.Kreativitas memiliki ketergantungan yang sangat terhadap
otak.
II.
SARAN
Penulisan dan
pengkajian mengenai kreativitas ini adalah telaah awal yang harus dikembangkan
dan dilanjutkan lebih dalam lagi. Kajian-kajian tentang pengembangan
kreativitas & keberbakatan masih sangat perlu untuk ditingkatkan, masih
banyak teori lain tentang kreativitas menurut para ahli lainnya. Diharapkan
jiwa kreatif itu ada di setiap diri kita untuk melahirkan sesuatu yang selalu
baru dan positif guna mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Heru Basuki, A. M. (2005). KREATIVITAS, KEBERBAKATAN INTELEKTUAL DAN FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG
DALAM PENGEMBANGANNYA. Jakarta: Gunadarma
https://indahkusumadewi.wordpress.com/b-teori-mengenai-kreativitas/ 18-04-2015/16:37
No comments:
Post a Comment