MAKALAH
PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN
TUGAS PORTOFOLIO 3
Tugas
ini dibuat untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas &
Keberbakatan
Dosen Pengajar :
NITA SRI
HANDAYANI, SPsi
Disusun Oleh :
LAILATUN
NAFILLAH (15514967)
PRISKILA
THEODORA (18514533)
RANNY KHOIRUNISA (18514928)
1PA15
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat ALLAH SWT, atas segala berkat, rahmat,
taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “Tugas Portofolio 3”.
Makalah ini
dibuat dalam rangka memahami teori-teori mengenai belajar dan mengajar kreatif serta segala yang berkaitan dengannya.
Selain itu, tugas
ini dibuat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang mahasiswa, serta untuk
memenuhi nilai tugas Mata
Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan. Dalam proses
pembuatan makalah ini tentu penulis mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan
saran. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu Nita Sri Handayani,
SPsi selaku dosen Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan serta
rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan aspirasinya dalam pembuatan
makalah.
Akhir kata
semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada
khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari
sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun
demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.
Bekasi, Mei
2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
I.
LATAR BELAKANG
Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK), yang diperbaharui dengan
Kurikulum 2006 (KTSP), telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan
secara utuh pada setiap sekolah. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan
pembelajaran di sekolah, masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi
siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar
di kelas masih tetap menggunakan cara lama, yaitu dominan menggunakan metode
ceramah-ekspositori. Guru masih dominan dan siswa resisten, guru masih menjadi
pemain dan siswa penonton, guru aktif dan siswa pasif. Paradigma lama masih
melekat karena kebiasaan yang susah diubah, paradigma mengajar masih tetap
dipertahankan dan belum berubah menjadi paradigma membelajarkan siswa. Padahal,
tuntutan KBK, pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran
untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas, ini berarti bahwa guru sebagai
sutradara dan siswa menjadi pemain, jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa
dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life
skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri.
Demikian pula, pada pihak siswa, karena kebiasaan menjadi penonton dalam
kelas, mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa
memberi. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan
sukar diubah, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang
masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan
siswa. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim, boro-boro sempat
waktu untuk membaca buku yang aktual, mereka sangat sibuk untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya, dan memang itu kewajiban utama, apalagi untuk membeli
buku pembelajaran yang inovatif.Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas
pemebelajaran, tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan.Permasalahannya
adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas, mengubah
paradigma mengajar menjadi membelajarkan, sehingga misi KBK dapat terwujud.
Dengan paradigma yang berubah, mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat
pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif.
II.
BATASAN MASALAH
1.
Apa
yang dimaksud dengan belajar kreatif?
2.
Apa
saja saja proses belajar kreatif?
3.
Mengapa proses
belajar kreatif itu penting?
4.
Apa
saja tiga tingkat belajar kreatif (model triffinger)?
5.
Apa
yang dimaksud dengan mengajar kreatif?
6.
Apa
saja teknik mengajar kreatif?
7.
Apa
saja strategi memupuk iklim belajar yang kreatif?
III. TUJUAN PENULISAN
1.
Untuk
mengetahui tentang belajar kreatif.
2.
Untuk
mengetahui proses belajar kreatif.
3.
Untuk
mengetahui mengapa proses belajar kreatif itu penting.
4.
Untuk
mengetahui tiga tingkat belajar kreatif (model triffinger).
5.
Untuk
mengetahui tentang mengajar kreatif.
6.
Untuk
mengetahui teknik mengajar kreatif.
7.
Untuk
mengetahui strategi memupuk iklim belajar yang kreatif dan
saran-saran tambahan belajar yang kreatif.
IV. MANFAAT PENULISAN
1.
Menambah wawasan mengenai belajar dan mengajar kreatif.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
PENGERTIAN
BELAJAR KREATIF
Kreatif
Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya
seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada dengan
demikian baik berubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat
menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif (Munandar, 1995 : 12).
Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu
yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan
apa yang telah ada sebelumnya (Supriyadi, 1994 : 7). Secara psikoligis, belajar
merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “belajar
juga adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003 :
2). Ahli pendidikan modern merumuskan bahwa belajar adalah suatu bentuk
pertmbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara
bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Aqib, 2003 : 42). Belajar
merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia dan
berlangsung seumur hidup (Rohadi, 2003 : 4). Dengan demikian belajar merupakan
usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk
merubah prilakunya, jadi hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan
prilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Tornace dan Myres
dikutip oleh Triffinger (1980) dalam Semiawan dkk (1987:34) berpendapat bahwa
belajar kreatif adalah “menjadi peka atausadar akan masalah,
kekuarangan-kekurangan, kesenjangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tidak
ada, ketidak harmonisan dan sebagainya. Mengumpulkam informasi yang ada,
membataskan kesukaran, atau menunjukkan (mengidentifikasi) unsur yang tidak
ada, mencari jawaban, membuat hipotesis, mengubah dan mengujinya,
menyempurnakan dan akhirmnya mengkomunikasikan hasil-hasilnya” . Sedangkan
proses belajar kreatif menurut Torance dan Myres berpendapat bahwa proses
belajar kreatif sebagai : “keterlibatan dengan sesuatu yang berarti, rasa ingin
tahu dan mengetahui dalam kekaguman, ketidak lengkapan, kekacauan, kerumitan,
ketidakselarasan, ketidakteraturan dan sebagainya. Kesederhanaan dari struktur
atau mendiagnosis suatu kesulitan dengan mensintesiskan ionformasi yang telah
diketahui, membentuk kombinasi dan mendivergensi dengan menciptakan
alternatif-alternatif baru, kemungkinan-kemungkinan baru, dan sebagainya.
Mempertimbangkan, menilai, memeriksa, dan menguji kemungkinan-kemungkinan baru,
menyisihkan, memecahkan yang tidak berhasil, salah dan kurang baik, memilih
pemecahan yang paling baik dan membuatnya menarik atau menyenangkan secara
estesis, mengkonunikasi hasi-hasilnya kepada orang lain” (Semiawan, DKK. 1987 :
35). Dengan demikian dalam belajar kreatif harus melibatkan komponen-komponen
pengalaman belajar yang paling menyenangkan dan paling tidak menyenangkan lalu
menemukan bahwa pengalaman dalam proses belajar kreatif sangat mungkin berada
di antara pengalaman-penglaman belajar yang sangat menenangkan, pengalama-pengalaman
yang sangat memberikan kepuasan kepada kita dan yang sangat bernilai bagi kita.
Jadi kreativitas belajar dapat diartikan sebagai kemampuan siswa menciptakan
hal-hal baru dalam belajarnya baik berupa kemampuan mengembangkan kemampuan
formasi yang diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa
pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.
2.
PROSES BELAJAR
KREATIF
Graham Wallas
(1926)dalam bukunya „The Art of Thought’ yang mengatakan bahwa proses kreatif
meliputi empat tahap, yaitu (1) persiapan; (2) inkubasi; (3) iluminasi, dan (4)
verifikasi.
1) Tahap persiapan/orientasi(preparasi) seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain. Pada tahap persiapan ide datang dan timbul dari berbagai kemungkinan, dan ini dapat berasaldari guru melalui penjelasan atau penyampaian informasi topik materi pelajaran atau dapat pula dari siswa yang sebelumnya telah ditugaskan oleh guru untuk mencari ide atau gagasan yang terkait dengan materi pembelajaran.
1) Tahap persiapan/orientasi(preparasi) seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain. Pada tahap persiapan ide datang dan timbul dari berbagai kemungkinan, dan ini dapat berasaldari guru melalui penjelasan atau penyampaian informasi topik materi pelajaran atau dapat pula dari siswa yang sebelumnya telah ditugaskan oleh guru untuk mencari ide atau gagasan yang terkait dengan materi pembelajaran.
2) Tahap
Inkubasi Pada tahap inkubasi, kegiatan mencari dan menghimpun data atau
informasi tidak dilanjutkan. Inkubasi adalah tahap dimana individu seakan-akan
melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia
tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tapi “ mengeramnya “ dalam alam
prasadar, yaitu dimaksudkan diharapkan hadirnya suatu pemahaman serta
kematangan terhadap ide yang tadi timbul (setelah dieram).
3) Tahap
Iluminasi Tahap iluminasi adalah tahap timbulnya „insight’, yaitu saat
timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologi yang
mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru. Suatu tingkat
penemuan saat inspirasi yang tadi diperoleh, dikelola, digarap, kemudian menuju
kepada pengembangan suatu hasil (product development). Pada masa ini terjadi
komunikasi terhadap hasilnya dengan orang yang signifikan (dalam hal ini adalah
guru atau orang lain yang berkompeten) bagi penentu, sehingga hasil yang telah
dicapai dapat lebih disempurnakan lagi.
4) Tahap
Verifikasi Tahap verifikasi (verification) atau tahap evaluasi adalah tahap
dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini
diperlukan pemikiran kritis dan konvergen (pemikiran kreatif) dan diikuti oleh
proses konvergensi (pemikiran kritis). Tahap ini dapat dilakukan misalnya dalam
bentuk simulasi dan diskusi hasil penemuan tersebut.
3.
MENGAPA BELAJAR
KREATIF ITU PENTING?
Refinger (1980 :
9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar
kreatif itu penting.
a.
Belajar
kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka.
Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar
mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
b.
Belajar
kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah
yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
c.
Belajar
kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak
pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita.
Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah
karir dan kehidupan pribadi kita.
d.
Belajar
kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
4.
TIGA TINGKAT
BELAJAR KREATIF (MODEL TRIFFINGER)
Model
pembelajaran Treffinger adalah pembelajaran kreatif yang bertujuan untuk
mengembangkan kreativitas siswa dengan menggunakan ketrampilan afektif dan
kognitif yang termuat dalam tiga tingkatan yaitu basic tools, practice with
proses, dan working with real problem.Tingkat I adalah basic tools, yaitu
pengembangan fungsi-fungsi divergen, Tingkat II adalah practice with proses,
merupakan proses berpikir dan perasaan majemuk, dan tingkat III adalah working
with real problem, yaitu pengaplikasian pada dunia nyata.
5.
PENGERTIAN
MENGAJAR KREATIF
Definisi
mengajar adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain
(Hoetomo,MA,1999) sedangkan Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum
(2010) Kreativitas ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang
baru, baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif
berbeda dengan yang telah ada sebelumnya.
Berdasarkan
pendapat yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar
kreatif adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain dengan
sesuatu yang baru baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata
yang relatif berbeda dari cara yang ada sebelumnya.
6.
TEKNIK MENGAJAR
KREATIF
1. Melakukan
Pemanasan
Sebelum memulai
dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana
pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa,
terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu
penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan,
bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda
lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan
gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang dapat
tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat
dan rasa ingin tahu siswa.
2. Pemikiran dan
perasaan terbuka
Teknik pemikiran
dan perasaan berakhir terbuka ingin mengupayakan agar peserta didik terdorong
memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara
mengajukan pertanyaan dan memungkinkan peserta didik mengungkapkan segala
perasaan dan pikiran sebagai jawaban.
3. Strategi
Belajar Kreatif
Strategi
Pembelajaran kreatif yang diberi nama “Majelis” ini cocok digunakan untuk mata
pelajaran TIK, IPA, Penjaskes, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan
Agama, Keterampilan, Seni Budaya, IPS, dan Matematika. Dasar pemikiran mengapa
muncul strategi pembelajaran ini adalah sifat dasar alamiah manusia yang
senantiasa ingin berkumpul dan bercakap-cakap, atau berdiskusi. Strategi
pembelajaran kreatif majelis ini mudah dilaksanakan karena tidak memerlukan
setting ruangan secara khusus. Selain itu, selama pembelajaran siswa dapat
melatih kecerdasan emosional, kemandirian, berbicara, menulis, membaca,
mendengarkan, bergerak, dan tentu saja bersenang-senang.
Melalui strategi
pembelajaran kreatif majelis ini, setiap kelompok siswa misalnya diberi tugas
untuk menggabungkan potongan-potongan informasi atau gambar menjadi sesuatu
yang utuh dan bermakna. Melalui kegiatan pembelajaran yang menggunakan strategi
“Majelis” ini, dapat diharapkan siswa menjadi aktif baik secara fisik maupun mental.
Mereka pasti lebih suka menggeser-geser kartu dan mereka-reka kata, kalimat,
atau simbol untuk membuat hubungan. Selain itu metode ini bagus untuk
keterampilan mengurutkan, mengelompokkan,memilih dan mencocokkan. Mereka dapat
diminta untuk saling berlomba untuk menjadi yang paling cepat menyelesaikan
tugas. Hal ini dilakukan agar setiap kelompok menjadi lebih bersemangat dalam
belajar.Strategi pembelajaran “Majelis” dapat divariasikan dengan membuat
sistem kompetisi untuk kelompok siswa.
7.
SARAN-SARAN
TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR YANG KREATIF
Untuk dapat
mengatasi permasalahan dalam pembelajaran yaitu guru harus mengembangkan
kreativitasnya dalam pembelajaran. Kreativitas guru merupakan hal penting dalam
pembelajaran dan bahkan dapat menjadikan pintu masuk dalam upaya meningkatkan
pencapaian hasil belajar siswa. Perilaku pembelajaran yang dicerminkan oleh
guru cenderung kurang bermakna apabila tidak diimbangi dengan gagasan/ide dan
perilaku pembelajaran yang kreatif. Kreativitas adalah kemampuan guru dalam
meninggalkan gagasan/ide dan perilaku yang dinilai mapan, rutinitas, usang dan
beralih untuk menghasilkan atau memunculkan gagasan/ide dan perilaku baru itu
terwujud ke dalam pola pembelajaran yang di nilai kreatif dan adaptif terhadap
perubahan (Agung 2010 :12).
Mengembangkan kreativitas pembelajaran antara lain sebagai berikut :
Mengembangkan kreativitas pembelajaran antara lain sebagai berikut :
a. Merancang dan
Menyiapkan Bahan Ajar/Materi Pelajaran
Merancang dan
menyiapkan bahan ajar/materi pelajaran merupakan faktor penting dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran terhadap anak didik dapat berlangsung baik,
rancangan dan persiapan bahan ajar/materi pelajaran pun harus baik pula, cermat
dan sistematis. Rancangan atau persiapan bahan ajar/ materi pelajaran berfungsi
sebagai pemberi arah pelaksanaan pembelajaran, sehingga proses pembelajaran
dapat terarah baik dan efektif. Namun hendaknya dalam merancang dan menyiapkan
bahan ajar/ materi pelajaran disertai pula dengan gagasan/ide dan perilaku guru
yang kreatif (Agung 2010 :54).
Sejumlah hal
dibawah ini mungkin dapat menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan
gagasan/ide dan perilaku kreatif berkaitan dengan menyusun rencana atau
persiapan mengajar (Agung 2010 :54-55):
·
Menentukan
bahan ajar/materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik.
·
Menentukan
tujuan pembelajaran dari masing-masing bahan ajar/materi pelajaran yang akan
disampaikan.
·
Memilah
bahan ajar/materi pelajaran yang dinilai sulit dan mudah diterima oleh peserta
didik.
·
Merancang
cara pemberian dan membangkitkan perhartian dan semangat belajar siswa, melalui
contoh, ilustrasi gaya bahasa yang di gunakan dan lain sebagainya.
·
Merancang
cara untuk menimbulkan keaktifan dalam pembelajaran siswa, berupa pemberian
tugas mencari bahan ajar, eksperimen, stimulasi, diskusi, perkerjaan rumah dan sebagainya.
·
Merancang
cara pemberian pengulangan tehadap bahan ajar yang dinilai sulit melalui tes
kecil, pemberian tambahan waktu belajar, pemberian tugas/perkerjaan rumah dan
lain sebagainya.
·
Merancang
cara memberikan tantangan belajar yang perlu diatasi bersama oleh siswa, baik
individual maupun kelompok, seperti menugaskan membaca dan menyimpulakn hasil,
tugas, tugas kelompok, pengenalan lingkungan sekitar, memberikan tugas kliping
Koran dengan tema sesuai dengan materi pelajaran dan memberikan kesimpulan dan
lain sebagainya.
·
Merancang
cara untuk balikan dan penguatan, berupa tes kecil harian, pemberian
tugas/latihan, pemberian jam pelajaran tambahan untuk penguatan dan sebagainya.
·
Memperhatikan
perbedaan karakteristik kemampuan siswa dan mengelompokkan ke dalam siswa
pintar, sedang, dan kurang, serta perlakuan yang akan diberikan.
·
Menyusun
rencana kerja.
b. Pengelolaan
Kelas
Pengelolahan
kelas harus sesuai dengan materim, tujuan, dan kebutuhan yang dihadapi. Guru
dapat merancang pengelolahan kelas secara variatif untuk menghindarkan proses
pembelajaran yang monoton, satu arah dan kering. Sebaliknya, pengelolaan kelas
yang terencana dengan baik akan membawa suasana pembelajaran lebih menantang,
menarik dan tidak membosabkan. Kreativitas guru dalam pengelolaan kelas (Agung
2010 :56-57):
·
Mengkaji
bahan ajar/materi pembelajaran yang akan disampaikan, tujuan pembelajran.
·
Mengkaji
bentuk-bentuk pengelolaan kelas dan menentukan dengan kemungkinan penerapan
sesuai dengan bahan ajar/materi pelajaran yang akan disampaikan, dalam bentuk
klasikal/kelas, berkelompok, berpasangan, perseorangan atau lainnya.
·
Memperhatikan
hal-hal pengelolaan kelas terkait denganpemberian dan membangkitkan perhatian
dan motivasi peserta didik, mengembangkan keaktifan dalam pembelajara,
keterlibatan langsung peserta didik, pemberian pengulangan, pemberian tantangan
belajar, pemberian balikan dan penguatan, serta perbedaan individual siswa.
·
Mengidentifikasi
permasalahan dan hambatan dalam pengelolaan dan kebutuhanruang/kelas, serta
membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternative
pemecahannya.
·
Menyusun
rencana kerja terkait pengelolaan kelas.
c. Pemanfaatan
Waktu
Hal yang dapat
dilakukan guru dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku kreatif dalam
memanfaatkan waktu antara lain (Agung 2010 :58-59) :
·
Mengkaji
rancangan/persiapan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.
·
Menyusun
pembagian waktu pembelajaran berdasarkan jenis/bentuk pengajaran, misalkan
penyampaian bahan ajar/materi pelajaran, diskusi, eksperimen, dan lain
sebagainya.
·
Merancang
dan menyususun pembagian waktu untuk membangkitkan perhatian dan motivasi
peserta didik, keterlibatan langsung, keaktifan, pengulangan, balikan dan
penguatan, sampai dengan penambahan jam pelajaran.
·
Mengidentifikasi
permasalahan dan hambatan yang muncul dalam upaya memberikan tambahan waktu
belajar kepada siswa.
·
Membahas
dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternatif pemecahannya.
· Menyusun rencana kerja pemanfaatan waktu.
d. Penggunaan
Metode Pembelajaran
Beberapa hal
yang dapat dilakukan guru untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang kreatif
dalam menggunakan metode pengajaran, yaitu (Agung 2010 :60-61):
·
Mengkaji
bentuk metode pembelajaran yang ada.
·
Mengkaji
segenap hal terkait dengan penggunaan metode pembelajaran, mulai dari bahan
ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran yang akan disampaikan, upaya
membangkitkan perhatian dan semangat peserta didik, melibatkan keaktifan
peserta didik, memberikan balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian
terhadap perbedaan karakteristik peserta didik.
·
Merancang
metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengunaannya.
·
Membahas
rancangan penggunaan bentuk metode pembelajaran dan menyiapkan fasilitas
pendukung.
·
Mencari
bantuan ahli yang berasal dari dalam maupun luar sekolah (apabila diperlukan).
·
Menyusun
rancangan kerja pemanfaatan metode pembelajaran.
e. Penggunaan
Media Pembelajaran
Di bawah ini
sejumlah langkah/tindakan yang dapat dilaksanakan oleh guru terkait dengan
penggunaan media pembelajaran, antara lain (Agung 2010 :62):
·
Mengkaji
bentuk-bentuk media pembelajaran yang ada.
·
Mengkaji
segenap hal terkait dengan penggunaan media pembelajaran, mulai dari bahan
ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran, upaya membangkitkan perhatian dan
semangat peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan balikan
dan penguatan, sampai dengan perhatian perbedaan karakteristik peserta didik.
·
Merancang
dan membahas penggunaan media pembelajaran.
·
Mencari
bantuan ahli. · Menyusun rencana kerja penggunaan media pembelajaran.
f. Pengembangan
Alat Evaluasi
Dibawah ini
dikemukakan langkah-langkah atau tindakan yang mungkin dapat dilakukan guru
dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif berkaitan
dengan pengembangan alat evaluasi tersebut (Agung 2010 :63-65) :
·
Mengidentifikasi
jenis/bentuk tes berbagai alat evaluasi hasil belajar siswa/peserta didik serta
kaidah-kaidah penulisan soal.
·
Menentukan
waktu evaluasi berupa tes/ulangan harian, mingguan, bulanan, cawu dan semester.
·
Menentukan
jenis/bentuk tes (uraian, jawaban singkat, isian, pilihan ganda, menjodohkan
dan benar salah).
·
Menetapkan
jenis/bentuk tes yang telah dipilih.
·
Mengidentifikasi
permasalahan, hambatan dan kebutuhan berkenaan dengan penggunaan jenis/bentuk
tes.
·
Menentukan
alternatif pemecahan permasalahan, hambatan dan kebutuhan yang dihadapi.
BAB III
PENUTUP
I.
KESIMPULAN
Kreatif
Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya
seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada dengan
demikian baik berubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat
menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif (Munandar, 1995 : 12).
Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu
yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan
apa yang telah ada sebelumnya (Supriyadi, 1994 : 7).
Graham Wallas
(1926) dalam
bukunya „The Art of Thought’ yang mengatakan bahwa proses kreatif meliputi
empat tahap, yaitu (1) persiapan; (2) inkubasi; (3) iluminasi, dan (4)
verifikasi.
Model
pembelajaran Treffinger adalah pembelajaran kreatif yang bertujuan untuk
mengembangkan kreativitas siswa dengan menggunakan ketrampilan afektif dan
kognitif yang termuat dalam tiga tingkatan yaitu basic tools, practice with
proses, dan working with real problem.Tingkat I adalah basic tools, yaitu
pengembangan fungsi-fungsi divergen, Tingkat II adalah practice with proses,
merupakan proses berpikir dan perasaan majemuk, dan tingkat III adalah working
with real problem, yaitu pengaplikasian pada dunia nyata.
Mengajar
adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain (Hoetomo,MA,1999)
sedangkan Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum (2010) Kreativitas
ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gaya
hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang
telah ada sebelumnya.
Teknik Mengajar
Kreatif, yaitu : Melakukan Pemanasan, Pemikiran
dan perasaan terbuka, Strategi Belajar
Kreatif.
II.
SARAN
Untuk dapat
mengatasi permasalahan dalam pembelajaran yaitu guru harus mengembangkan
kreativitasnya dalam pembelajaran. Kreativitas guru merupakan hal penting dalam
pembelajaran dan bahkan dapat menjadikan pintu masuk dalam upaya meningkatkan
pencapaian hasil belajar siswa. Perilaku pembelajaran yang dicerminkan oleh
guru cenderung kurang bermakna apabila tidak diimbangi dengan gagasan/ide dan
perilaku pembelajaran yang kreatif. Untuk mengembangkan kreativitas pembelajaran dengan cara : Merancang dan
Menyiapkan Bahan Ajar/Materi Pelajaran, Pengelolaan
Kelas, Pemanfaatan
Waktu, Penggunaan
Metode Pembelajaran, Penggunaan Media
Pembelajaran, Pengembangan
Alat Evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
Heru Basuki,
A. M. (2005). KREATIVITAS,
KEBERBAKATAN INTELEKTUAL DAN FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DALAM PENGEMBANGANNYA. Jakarta:
Gunadarma
https://totoyulianto.wordpress.com/2013/03/09/pengertian-kreativitas-belajar-menurut-para-ahli/
17-05-2015/13:57
http://amaliakusuma61.blogspot.com/
17-05-2015/13:59

No comments:
Post a Comment