A. Konsep Dasar Gestalt
1. Tentang Pendekatan
Gestalt
Penemu psikoterapi Gestalt adalah
Frederick (Fritz) Perls dan mulai berkembang pada awal tahun 1950. Pendekatan
Gestalt berfokus pada masa kini dan itu di butuhkan kesadaran saat itu juga.
Kesadaran ditandai oleh kontak, penginderaan, dan gairah. Kontak dapat terjadi
tanpa kesadaran, namun kesadaran tidak dapat dipisahkan dari kontak.
Geralt Corey dalam bukunya (Teori
dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal. 118) mengatakan bahwa terapi
Gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi yang
mengharuskan individu menemukan jalannya sendiri dan menerima tanggung jawab
pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan.
2. Konsep Dasar
Psikoterapi Gestalt menitikberatkan
pada semua yang timbul pada saat ini. Pendekatan ini tidak memperhatikan masa
lampau dan juga tidak memperhatikan yang akan datang. Jadi pendekatan Gestalt
lebih menekankan pada proses yang ada selama terapi berlangsung.
Dalam buku Geralt Corey menekankan
konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab pribadi,
urusan yang tak terselesaikan, penghindaran,dan menyadari saat sekarang.
Bagi Perls, tidak ada yang “ada”
kecuali “sekarang”. Karena masa lalu telah pergi dan masa depan belum
terjadi,maka saat sekaranglah yang terpenting. Guna membantu klien untk membuat
kontak dengan saat sekarang, terapis lebih suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan
”apa” dan “bagaimana” ketimbang “mengapa”, karena pertanyaan mengapa dapat
mengarah pada pemikiran yang tak berkesudahan tentang masa lampau yang hanya
akan membangkitkan penolakan terhadap saat sekarang.
Konsep dasar pendekatan Gestalt
adalah Kesadaran, dan sasaran utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran.
Menurut buku M.A Subandi (psikoterapi, hal. 96) kesadaran meliputi:
1.
Kesadaran
akan efektif apabila didasarkan pada dan disemangati oleh kebutuhan yang ada
saat ini yang dirasakan oleh individu
2.
Kesadaran
tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi dan
bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.
3.
Kesadaran
itu selalu ada di sini-dan-saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan
sesuatu yang mustahil terjadi.
Dalam buku Geralt Corey (1995),
dalam terapi Gestalt terdapat juga konsep tentang urusan yang tak
terselesaikan, yaitu mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti
dendam, kemarahan, sakit hati, kecemasan rasa diabaikan dan sebagainya. Meskipun
tidak bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan dan
fantasi tertentu. Karena tidak terungkap dalam kesadaran, perasaan itu tetap
tinggal dan dibawa kepada kehidupan sekarang yang menghambat hubungan yang
efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. Dengan ini, di harapkan klien
akan dibawa kesadarannya dimasa sekarang dengan mencoba menyuruhnya kembali
kemasa lalu dan kemudian klien disuruh untuk mengungkapkan apa yang
diinginkannya saat lalu sehingga perasaan yang tak terselesaikan dulu bisa
dihadapi saat ini.
B. Tujuan
Pendekatan Gestalt
Tujuan utama konseling Gestalt
adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun
kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah
dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi
percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan
hidupnya.
Individu yang bermasalah pada
umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan
sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Melalui konseling konselor membantu
klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan
dikembangkan secara optimal.
Secara lebih spesifik tujuan
konseling Gestalt adalah sebagai berikut.
·
Membantu
klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau
realitas.
·
Membantu
klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya
·
Mengentaskan
klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur
diri sendiri (to be true to himself)
Meningkatkan kesadaran individual
agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi
bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat
diatasi dengan baik.
C. Asumsi
Tingkah Laku Bermasalah
Menurut ringkasan Gudnanto
(Pendekatan Konseling, 2012). Individu bermasalah, karena terjadinya
pertentangan antara kekuatan “top dog” dan “under dog”. Top dog adalah posisi
kuat yang menuntut, mangancam sedangkan under dog adalah keadaan membela diri,
tidak berdaya dan pasif. Individu bermasalah karena ketidakmampuan seseorang
dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya karena disebabkan
mengalami kesenjangan antara masa sekarang dan masa yang akan datang.
D. Model-model
pendekatan Gestalt
1. Model Pola Hubungan Konselor
dengan Konseli
M. A Subandi dalam bukunya
(Psikoterapi, hal. 89), Hubungan antara konselor dan klien adalah sejajar yaitu
hubungan antara klien dan konselor itu adanya /melibatkan dialog dan hubungan antara
keduanya. Pengalaman – pengalaman kesadaran dan persepsi konselor merupakan
inti dari proses konseling.
Menurut Gerald Corey dalam bukunya
(Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal. 132), hubungan terapis
dan klien dalam praktek terapi Gestalt yang efektif yaitu dengan melibatkan
hubungan pribadi-ke-pribadi antara terapis dan klien. Pengalaman-pengalaman,
kesadaran, dan persepsi-persepsi terapis menjadi laatar belakang, sementara
kesadaran dan reaksi-reaksi klien membentuk bagian muka proses terapi.
2. Model Peran Konselor
Menurut ringkasan Gudnanto
(Pendekatan Konseling, 2012). Dalam pendekatan teori Gestalt ini, peran
konselor adalah:
1.
Memfokuskan
pada perasaan klien, kesadaran pada saat yang sedang berjalan, serta hambatan
terhadap kesadaran.
2.
Tugas
terapis adalah menantang klien sehingga mereka mau memanfaatkan indera mereka
sepenuhnya dan berhubungan dengan pesan-pesan tubuh mereka.
3.
Menaruh
perhatian pada bahasa tubuh klien, sebagai petunujk non verbal.
4.
Secara
halus berkonfrontasi dengan klien guna untuk menolong mereka menjadi sadar akan
akibat dari bahasa mereka.
3. Model Operasional/Strategi
Dalam buku yang di baca penulis (M.
A Subandi dalam bukunya Psikoterapi dan Menurut Gerald Corey dalam bukunya
Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi) dapat di simpulkan bahwa focus
utama konseling adalah bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan
apa yang muncul dalam kesadarannya. Tugas konselor adalah mendorong klien untuk
dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya dan mau mencoba menghadapinya,
klien bisa diajak untuk memilih dua alternative, menolak kenyataan yang ada
pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada
dirinya sekarang. Selain itu konselor diharapkan menghindari diri dari
pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis,
interpretasi, maupun memberi nasihat.
Konselor sejak awal sudah
mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang maupun menyingkirkan
hambatan-hambatan yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Konselor
membantu klien menghadapi transisi dari ketergantungannya terhadap factor luar
menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan
dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. Pada saat klien mengalami
ketersesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara
mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh atau gila. Konselor
membantu membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi
ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.
4. Model Analisis dan Diagnosis
Masalah
Dalam ringkasan Gudnanto (Pendekatan
Konseling, 2012), model analisis dan diagnosis masalah menurut pendekatan
Gestalt adalah:
a. Konselor mengembangkan pertemuan
konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang
diharapkan pada klien.
b. Konselor berusaha meyakinkan dan
mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai
dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor yaitu, membangkitkan
motivasi klien dan membangkitkan otonomi klien (menekankan bahwa klien boleh
menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara
bertanggung jawab).
c. Konselor mendorong klien untuk
mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. Klien diberi kesempatan untuk
mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi
disini dan saat ini. Klien diperbolehkan memproyeksikan dirinya kepada
konselor.
d. Setelah klien memperoleh pemahaman
dan penyegaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor
mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. Pada fase ini klein
menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya
sebagai individu yang unik dan manusiawi.
5. Teknik dalam Pendekatan Gestalt
Dalam ringkasan Gudnanto (Pendekatan
Konseling, 2012), prinsip kerja teknik konseling Gestalt yaitu:
a.
Penekanan
tanggung jawab klien. Konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa
mengubah klien, konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas
tingkah lakunya.
b.
Orientasi
sekarang dan saat ini. Konselor tidak membangun kembali (mengulang) masalalu
atau motif tidak sadar, tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Masa lalu hanya
dalam kaitannya dengan keadaan sekarang
c.
Orientasi
kesadaran. Konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan
masalah-masalahnya.
Dalam buku Gerald Corey tahun 1995.
Teknik-teknik yang biasanya dipakai yaitu:
1) Permainan
Dialog
Teknik ini dilakukan dengan cara
klien dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang saling bertentangan
yaitu, kecenderungan top dog (adil, menuntut, dan berlaku sebagai majikan) dan
under dog (korban, bersikap tidak berdaya, membela diri, dan tak berkuasa).
Disini ada permainan kursi kosong, yaitu klien diharapkan bermain dialog dengan
memerankan top dog maupun under dog sehingga klien dapat merasakan keduanya dan
dapat melihat sudut pandang dari keduanya.
2)
Teknik Pembalikan
Teori yang melandasi teknik
pembalikan adalah teori bahwa klien terjun ke dalam suatu yang ditakutinya
karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungan dengan
bagian-bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Gejala-gejala dan
tingkah laku sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan
yang mendasari. Jadi konselor bisa meminta klien memainkan peran yang
bertentangan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya atau pembalikan dari
kepribadiannya.
3)
Bermain Proyeksi
Memantulkan pada orang lain
perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya.
4)
Tetap dengan Perasaan
Teknik ini bisa digunakan pada saat
klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang ia
sangat ingin menghindarinya. Terapi mendesak klien untuk tetap atau
menahan perasaan yang ia ingin hindari itu.
E. Kelebihan
dan Kelemahan Pendekatan Gestalt
Menurut ringkasan Gudnanto
(Pendekatan Konseling, 2012) dan buku Gerald Corey (Teori dan Praktek Konseling
dan Psikoterapi, 1995). Kelebihan dan Kelemahan pendekatan Gestalt adalah:
1. Kelebihan
a. Terapi Gestalt menangani masa lampau
dengan membawa aspek-aspek masa lampau yang relevan ke saat sekarang.
b. Terapi Gestalt memberikan perhatian
terhadap pesan-pesan nonverbal dan pesan-pesan tubuh.
c.
Terapi
Gestalt menolakk mengakui ketidak berdayaan sebagai alasan untuk tidak berubah.
d. Terapi Gestalt meletakkan penekanan
pada klien untuk menemukan makna dan penafsiran-penafsiran sendiri.
e.
Terapi
Gestalt menggairahkan hubungan dan mengungkapkan perasaan langsung menghindari
intelektualisasi abstrak tentang masalah klien.
2. Kelemahan
a.
Terapi
Gestalt tidak berlandaskan pada suatu teori yang kukuh
b.
Terapi
Gestalt cenderung antiintelektual dalam arti kurang memperhitungkan
faktor-faktor kognitif.
c.
Terapi
Gestalt menekankan tanggung jawab atas diri kita sendiri, tetapi mengabaikan
tanggung jawab kita kepada orang lain.
d.
Teradapat
bahaya yang nyata bahwa terapis yang menguasai teknik-teknik Gestalt akan
menggunakannya secara mekanis sehingga terapis sebagai pribadi tetap
tersembunyi.
e.
Para
klien sering bereaksi negative terhadap sejumlah teknik Gestalt karena merasa
dianggap tolol. Sudah sepantasnya terapis berpijak pada kerangaka yang layak
agar tidak tampak hanya sebagai muslihat-muslihat.
F. Penerapan
atau Aplikasi Pendekatan Gesatalt
1. Penerapan dalam Terapi Individu
dan Kelompok
Terapi Gestalt bisa diterapkan
dengan berbagai cara, baik dalam setting individual maupun setting kelompok. Setting
Individu, menurut ringkasan Gudnanto (Pendekatan Konseling, 2012) Sebagai
contoh, klien adalah seorang ibu yang terlalu keras mendidik anak perempuannya
yang berusia 13 tahun. Aturan keras dari ibu membuat anak merasa ketakutan,
cemas dan trauma bahakan beberapa hari tidak pulang kerumah yang tanpa
sepengetahuan ibunya ternyata anaknya menginap di rumah nenek. Suaminya yang
merasa kecewa dan kewalahan terhadap sikap istrinya yang keras itu akhirnya
meminta cerai. Latar bekang yang membuat istrinya keras seperti itu adalah
didikan dari orang tua sang istri yang terlalu keras dari kecil sampai remaja.
Istri sebenarnya merasa “sakit hati” dengan perlakuan itu dan sangant dendam.
Dan didikan keras itulah yang diteruskannya kepada putrinya.
Dalam kasus seperti ini, konselor
dapat menerapkan teknik permainan dialog yang didalamnya ada teknik kursi
kosong. Klien disuruh untuk berperan sebagai under dog yang menjadi korban.
Klien di arahkan untuk menjadi sadar akan perbuatannya saat ini bahwa sikapnya
yang keras itu hanya sebagai ungkapan balas dendam yang di teruskan kepada
putrinya. Selain itu, klien bisa disuruh untuk melakukan permainan ulangan. Mengulang
kembali apa yang dialaminya dulu atas sikap kasar orang tuanya dengan upaya
meningkatkan kesadaran atas pengulangan tersebut.
Setting Kelompok, menurut M.A
Subandi dalam bukunya (Psikoterapi)
Sebagai contoh, teknik bermain peran
di dalam kelompok. Misalnya seseorang yang merasa khawatir akan apa yang di
pikirkan orang lain terhadapnya, ia kemudian diminta untuk memerankan orang
yang mungkin menilainya itu. Setelah ia memerankan orang yang danggapnya
menilai dirinya, ia di minta untuk mengecek kembali pada orang iti. Tidak
jarang terjadi bahwa apa yang dianggapnya itu tidak nyata. Semua itu hanya
penilaian saja, padahal orang lain tidak menilainya seperti yang dianggapnya.
Dalam setting kelompok seperti ini,
biasanya anggota akan lebih cepat mengenali keyakinan yang kurang rasional yang
selama ini belum pernah dicocokkannya dengan orang lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Corey, Gerald.1995.Teori dan
Praktek Konseling dan Psikoterapi.Bandung: PT. Eresco
https://binham.wordpress.com/2012/05/22/teori-dan-teknik-konseling-pendekatan-gestalt/
A. Konsep Dasar Konseling Rasional Emotif (RET)
Manusia pada dasar dasarnya adalah unik yang memiliki
kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan
bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika
berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.
Reaksi
emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan
filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau
emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi
menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan
irasional.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang
diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara
irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang
tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat
menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan pikiran negatif serta
penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang
dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang
rasional.
Pandangan pendekatan rasional
emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci
teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu
Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar
ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
1.
Antecedent
event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang
dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian,
tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi
siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi
seseorang.
2.
Belief
(B) yaitukeyakinan, pandangan, nilai,
atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang
ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan
keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang
rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal,
bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional
merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk
akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
3.
Emotional
consequence (C) merupakan konsekuensi emosional
sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan
emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini
bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara
dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
B. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah
Dalam
perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah
merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.
Ciri-ciri
berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan; (b) menimbulkan perasaan tidak
enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu; (c)
menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif
Sebab-sebab
individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir
jelas tentangg saat ini dan yang akan dating, antara kenyatan dan imajinasi;
(b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain; (c) orang
tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan
kepada individu melalui berbagai media.
Indikator
keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima
dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan; (b) banyak
orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam
sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum; (c) kehidupan manusia
senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang dahsyat, mengerikan,
menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya; (d)
lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada
berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya; (e) penderitaan emosional dari
seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai
kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut;
(f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan
individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang;
(g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan
sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural; dan (h) nilai diri
sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan
penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.
C. Tujuan Konseling Rasional Emotif (RET)
Memperbaiki
dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan
klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis
agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan sel-actualizationnya
seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.
Menghilangkan
gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa
bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
Tiga
tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan
rasional-emotif :
Pertama
insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang
dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan
keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada
saat yang lalu.
Kedua,
insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang
menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus
dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya.
Ketiga,
insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman
ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali
dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.
Klien
yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat
kepada diri sendiri, (2) minat sosial, (3) pengarahan diri, (4) toleransi
terhadap pihak lain, (5) fleksibel, (6) menerima ketidakpastian, (7) komitmen
terhadap sesuatu di luar dirinya, (8) penerimaan diri, (9) berani mengambil
risiko, dan (10) menerima kenyataan.
D. Deskripsi Proses Konseling Rasional Emotif (RET)
Konseling
rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan
sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam
batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien.
Tugas
konselor menunjukkan bahwa
·
masalahnya disebabkan oleh persepsi
yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional
·
usaha untuk mengatasi masalah adalah
harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.
Operasionalisasi
tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien, dengan cara banyak
memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan
masalah klien secara langsung; (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi
semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk
dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa
ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien; (c)
mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya; (d)
menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan”
sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.
Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif :
1.
Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih
aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
2.
Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek
kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
3.
Emotif-ekspreriensial, artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga
memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan
emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari
gangguan tersebut.
4.
Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan
hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.
E. Teknik Konseling Rasional Emotif (RET)
Pendekatan
konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik
dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1.
Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a.
Assertive adaptive
Teknik
yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara
terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.
Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b.
Bermain peran
Teknik
untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan
negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien
dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c.
Imitasi
Teknik
untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan
maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
2.
Teknik-teknik Behavioristik
a.
Reinforcement
Teknik
untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan
jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). eknik ini
dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada
klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif.
Dengan
memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan
sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b.
Social modeling
Teknik
untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan
agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara
imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan
menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah
tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
3.
Teknik-teknik Kognitif
a.
Home work assigments,
Teknik
yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan
diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah
laku yang diharapkan.
Dengan
tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau
menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak
logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah
aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu
berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan
home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu
pertemuan tatap muka dengan konselor
Teknik
ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab,
kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri,
pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
b.
Latihan assertive
Teknik
untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku
tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru
model-model sosial.
Maksud
utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien
mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya; (b) membangkitkan
kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau
memusuhi hak asasi orang lain; (c) mendorong klien untuk meningkatkan
kepercayaan dan kemampuan diri; dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih
tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri
No comments:
Post a Comment