TUGAS PERTAMA PSIKOTERAPI
PENGERTIAN PSIKOTERAPI, PERBEDAAN PSIKOTERAPI DENGAN
KONSELING, TUJUAN, UNSUR DAN PENDEKATAN PSIKOTERAPI SERTA BENTUK-BENTUK TERAPI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
Disusun
Oleh:
Lailatun Nafillah
15514967
3PA06
Depok
MARET
2017
1.
PENGERTIAN PSIKOTERAPI
Dilihat
secara etimologis psikoterapi mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang artinya jelas yaitu “mind” atau sederhananya: jiwa dan “therapy” mengasuh, sehingga psikoterapi
dalam arti sempitnya adalah “perawatan terhadap aspek kejiwaan” seseorang.
Pengertian
psikoterapi menurut beberapa tokoh:
1.
Corsini (1989)
Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak
biasanya terdiri dari satu oran, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang
atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yyang tidak
menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena
ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut:
fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan
atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku
(ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal-usul
kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan
beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui
resmi untuk bertindak sebagai terapis.
2.
Ivey &
Simek-Downing (1980) Psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan
upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur
kepribadian.
3.
Watson & Morse
(1977) Bentuk khusus dari interaksi antara dua orang, pasien dan terapis, pada
mana pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis
menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien
meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah
pikiran, perasaan dan tindakannya,
Menurut
pendapat beberapa para ahli diatas, dapat disimpulkan pengertian psikoterapi
adalah proses perawatan atau penyembuhan penyakit kejiwaan melalui teknik dan
metode psikologi, dimana adanya interaksi antara dua orang yang disebut terapis
dan pasien.
2. PERBEDAAN PSIKOTERAPI
DENGAN KONSELING
Brammer &
Shostrom (1977) mengemukakan bahwa konseling ditandai dengan adanya terminologi
seperti “educational, vocational, supportive, situational, problem solving,
conscious awareness, normal, present-time dan short-time”. Sedangkan psikoterapi
ditandai dengan “supportive (dalam keadaan krisis), reconstructive, depth
emphasis, analytical, focus on the past, neurotic and other severe emotional
problem and long-term”.
Pallone (1977) dan
Patterson (1973) menyimpulkan perbedaan konseling dan psikoterapi yang dikutip
oleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut :
|
KONSELING
|
PSIKOTERAPI
|
|
1. Klien
|
1. Pasien
|
|
2. Gangguan yang kurang serius
|
2. Gangguan
yang serius
|
|
3. Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
|
3. Masalah
kepribadian dan pengambilan keputusan
|
|
4. Berhubungan dengan pencegahan
|
4. Berhubungan
dengan penyembuhan
|
|
5. Lingkungan pendidikan dan non medis
|
5. Lingkungan
medis
|
|
6. Berhubungan dengan kesadaran
|
6. Berhubungan
dengan ketidaksadaran
|
|
7. Metode Pencegahan/preventif
|
7. Metode
penyembuhan/kuratif
|
|
8. Jangka Pendek
|
8. Jangka
Panjang
|
Dari berbagai perbedaan
dilihat dari berbagai aspek-aspeknya antara konseling dan psikoterapi, maka
lebih jelasnya dapat disimpulkan sebagaimana tabel berikut :
|
Perbedaan
|
Konseling
|
Psikoterapi
|
|
Jenis Bantuan
|
Bantuan non material (bantuan
psikologis).
|
Bantuan psikis.
|
|
Pihak yang terlibat
|
1. Konselor.
2. Konseli.
|
1. Para ahli kejiwaan.
2. Individu yang mengalami
gangguan kejiwaan (kesehatan mentalnya terganggu).
|
|
Tujuan
|
1. Pemahaman diri.
2. Penerimaan diri.
3. Pengelolaan diri.
4. Mengoptimalkan potensi dan
kemampuan konseli.
5. Pemecahan masalah.
6. Aktualisasi diri.
7. Mengubah KES T (Kehidupan
Efektif Sehari-hari Terganggu) menjadi KES (Kehidupan Efektif Sehari-hari).
|
Menyembuhkan atau menghilangkan
gangguan kejiwaan yang diderita oleh pasien.
|
|
Proses
|
1. Wawancara konseling sebagai
alat utama.
2. Berkelanjutan.
3. Normatif.
|
1. Menggunakan obat penenang.
2. Berkelanjutan hingga gangguan
kejiwaan hilang.
|
|
Tahapan
|
1. Membina hubungan baik
(rapport).
2. Explorasi masalah.
3. Merumuskan tujuan.
4. Merencanakan bantuan.
5. Evaluasi, tindak lanjut.
|
Mengikuti tahapan dokter
spesialis gangguan kejiwaan.
|
|
Hasil (output)
|
1. Individu yang mandiri.
2. Mencapai KES (Kehidupan
Efektif Sehari-hari).
3. Terpecahkannya suatu masalah
yang dihadapi individu.
|
Gangguan kejiwaan yang diderita
oleh pasien hilang (sembuh).
|
Menurut
Mappiare (dalam Hartosujono, 2004) ada sejumlah perbedaan psikoterapi dan
konseling dikemukakan sebagai berikut:
a.
Konseling merupakan
bagian dari psikoterapi. Psikoterapi merupakan bagian yang lebih luas dari pada
konseling.
b.
Konseling lebih
mengarah pada penyebab atau awal masalah. Selanjutnya konseling lebih mengarah
pada pengembangan-pendidikan-pencegahan. Berbeda dengan psikoterapi yang mengarah
penyembuhan-penyesuaian-penyembuhan.
c.
Dasar konseling adalah
filsafat manusia. Dasar dari psikoterapi adalah perbedaan individual dengan
dasar-dasar psikologi kepribadian dan psikopatologi. Pada perkembangan
selanjutnya konseling juga memanfaatkan perkembangan teori-teori kepribadian
dalam konteks ilmu perilaku.
d.
Dijelaskan oleh
Narayana Rao (dalam Hartosujono, 2004) bahwa tujuan antara konseling dan
psikoterapi sama, namun keduanya berbeda dalam proses pencapaiannya.
Psikoterapi mencapainya dengan cara ‘pembedahan’ psikis dan pembedahan otak.
Proses konseling lebih mengarah pada identifikasi dan kekuatan-kekuatan positif
yang dimiliki klien, agar klien lebih maksimal dalam kehidupannya.
3. TUJUAN
PSIKOTERAPI
Berikut ini akan diuraikan mengenai tujuan dari
psikoterapi secara khusus dari beberapa metode dan teknik psikoterapi yang
banyak peminatnya, dari dua oran tokoh yakni Ivey, et al (1987) dan Corey
(1991):
- Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik
Menurut Ivey, et al
(1987): membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari.
Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah
lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
- Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisi
Menurut Corey (1991):
membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien
dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja
melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
- Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan Rogerian
Terpusat pada pribadi,
menurut Ivey, et al (1987): untuk memberikan jalan terhadap potensi yang
dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya
sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta
memberi jalan bagi pertumbuhannya yang unik.
- Tujuan
psikoterapi pada pendekatan terpusat pada pribadi
Menurut Corey (1991):
untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan
enak, sehingga ia bisa mengenai hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa
mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.
- Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan behavioristik
Menurut Ivey, et al
(1987): untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan untuk mengganti dengan
pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.
- Sehubung
dengan terapi behavioristik ini
Ivey, et al (1987)
menjelaskan mengenai tujuan pada terapi kognitif-behavioristik, yakni:
menghilangkan cara berfikir yang menyalahkan diri sendiri, mengembangkan cara
memandang lebih rasional dan toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
- Corey (1991) merumuskan
mengenai kognitif-behavioristik dan sekaligus rasional-emotif terapi dengan:
menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan diri
sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara rasional
dan toleran.
- Tujuan psikoterapi dengan
metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Ivey, et al (1987): agar
seseorang menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap
arah kehidupan seseorang.
- Corey (1991) merumuskan tujuan
terapi Gestalt: membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat
dari pengalamannya. Untuk merangsang menerima tanggung jawab dari dorongan
yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya
terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
Dapat
disimpulkan bahwa beberapa tujuan psikoterapi antara lain :
- Perawatan akut (intervensi
krisis dan stabilisasi)
- Rehabilitasi (memperbaiki
gangguan perilaku berat)
- Pemeliharaan (pencegahan
keadaan memburuk dijangka panjang)
Restrukturisasi (meningkatkan
perubahan yang terus menerus kepada pasien).
4. UNSUR-UNSUR
PSIKOTERAPI
Masserman (Karasu 1984) telah melaporkan tujuh “parameter
pengaruh” dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi.
Dalam hal ini termasuk :
- Peran sosial (martabat)
psikoterapis
- Hubungan (persekutuan
terapeutik)
- Hak
- Retrospeksi
- Re-edukasi
- Rehabilitasi
- Resosialisasi dan rekapitulasi
Unsur – unsur psikoterapeutik dapat dipilih untuk
masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi. Ciri-ciri ini
dapat diubah dengan berubahnya tujuan terapeutik, keadaan mental dan kebutuuhan
pasien.
5. PENDEKATAN PSIKOTERAPI
TERHADAP MENTAL ILLNES
Menurut Chaplin (2011) ada beberapa pendekatan
psikoterapi terhadap mental illness, diantaranya:
a. Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
b. Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
c. Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang memiliki latar belakang kondisi sosio-budaya tertentu.
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang memiliki latar belakang kondisi sosio-budaya tertentu.
d. Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
6.
BENTUK-BENTUK
TERAPI
A. Terapi
supportive
Suatu
bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien
beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk
mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Terapi suportif
menawarkan dukungan kepada pasien oleh seorang tokoh yang berkuasa selama
periode penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini juga
memiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan
mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Cara ini memberikan suatu
periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan
untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan dan dalam menghadapi
frustasi atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.
Adapun
macam-macam teknik terapi suportif:
1) Guidance/Bimbingan,
yakni prosedur pemberian pertolongan secara aktif dengan cara memberikan fakta
dan interpretasi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial dan
bidang-bidang kesehatan.
2) Manipulasi
lingkungan, yakni usaha untuk menyelesaikan problem-problem emosional klien
dengan cara menghilangkan atau mengubah unsur-unsur lingkungan yang tidak
menguntungkan.
3) Eksternalisasi
perhatian, yakni usaha untuk mengalihkan perhatian klien yang mengalami
keeeinasan atau depresi dengan jalan memberikan dorongan agar klien dapat
memulai lagi aktivitas yang pernah disenanginya ataupun mengembangkan
kesenangan baru untuk mengisi waktu senggangnya. Jenis-jenis eksternalisasi
perhatian antara lain terapi kerja, terapi musik,terapi gerak dan tari, terapi
syair, dan terapi sosial.
4) Sugesti-prestis,
yakni usaha terapis untuk mensugesti klien, yakni memberikan pengaruh psikis
tanpa daya kritik.
5) Meyakinkan
kembali (reassurance), terapi ini biasanya menyertai pada setiap terapi. Klien
yang merasakan ketakutan yang irasional perlu ditenangkan dan dihibur. Terapis
perlu mendiskusikan ketakutan-ketakutan tersebut secara terbuka dengan kliennya
untuk menjelaskan bahwa ketakutan itu tidak rasional atau tidak berdasar.
6) Dorongan
dan paksaan, yakni dengan memberikan ren-‘ara’ dan punishment untuk
menstimulasi perilaku klien sesuai yang diharapkan. Di antaranya dengan cara
klien diberi tugas untuk melawan impuls-impuls yang menimbulkan neurotik,
berusaha menghilangkan atau mengurangi intcnsitasnya sampai di bawah titik kritis.
7) Persuasi,
yakni mendasari diri pada anggapan bahwa dalam diri klien mempunyai sesuatu
kekuatan untuk proses emosinya yang patologis dengan kekuatan dan kemampuan
ataupun dengan menggunakan common sensenya sendiri, sebab pada umumnya orang
yang menderita gangguan jiwa dalam keadaan intelek tertutup emosi.
8) Pengakuan
dan penyaluran, yakni dengan cara mengeluarkan isi hati kepada orang lain.
Pendekatan ini untuk mengurangi tekanan yang ada pada klien, sebab dengan
adanya pengakuan dan penyaluran maka segala rasa tertekan yang mengganjal dapat
dilepaskan (katarsis).
9) Terapi
kelompok pemberi inspirasi, yakni terapi kelompok yang terdiri dari klien yang
memiliki problem sejenis.
B. Terapi
Reeducative
Untuk mencapai
pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar,
dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasi tujuan dan
membangkitkan serta mempergunakan potensi-potensi kreatif yang ada.
Cara-cara psikoterapi
reduktif antara lain :
1)
Terapi hubungan antar
manusia (relationship therapy)
2)
Terapi sikap (attitude
therapy)
3)
Terapi wawancara (interview
therapy)
4)
Analisa dan sinthesa
yang distributif (terapi psikobiologik Adolfmeyer)
5)
Konseling terapetik
6)
Terapi case work
7)
Reconditioning
8)
Terapi kelompok yang
reduktif
9)
Terapi somatic 2
C. Terapi
Rekonstruktif
Menyelami
alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi,
analisa daripada transfersi. Terapi ini untuk mencapai pengertian tentang
konflik-konflik yang letaknya di alam tak sadar, dengan usaha untuk mendapatkan
perubahan yang luar daripada struktur kepribadian dan pengluasan pertumbuhan
kepribadian dengan pengembangan potensi penyesuaian diri yang baru.
Tujuan
Terapi Rekonstruktif:
Perombakan
radikal daripada corak kepribadian hingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian
diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan
emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru.
DAFTAR PUSTAKA
https://echaelshanadia.wordpress.com/2015/03/20/pengertian-tujuan-dan-unsur-unsur-psikoterapi/
http://rahmawati-fajrin.blogspot.co.id/2014/03/bab-i-pendahuluan-1.html

No comments:
Post a Comment