3. BUDAYA DALAM PUISI
3.1
PENDEKATAN KESUSASTRAAN
Seni
termasuk sastra memegang peranan yang penting. Ini terjadi karena seni
merupakan ekspresi nilai nilai kemanusiaan, dan bukannya formulasi nilai nilai
kemanusiaan seperti yang terdapat dalam filsafat atau agama. Dibandingkan
dengan cabang the humanities yang lain, seperti misalnya ilmu bahasa, seni
memegang peranan penting, karena nilai nilai kemanusiaan yang di sampaikannya
normatif.
Seni
dalah ekspresi yang sifatnnya tidak normatif, seni lebih mudah berkomunikasi.
Karena nonnormatif, nilai nilai yang disampaikannya lebih fleksibel baik isinya
maupun cara penyampainnya.
Hampir
disetiap jaman , sastra mempunyai peranan yang lebih penting. Alas an pertama,
kerana sastra mengunakan bahasa. Sementara itu, bahasa mempunyai kemampuan
untuk menampung hamper semua pernyataan kegiatan manusia. Dalam usahannya untuk
memahami dirinya sendiri. Yang kemudian melahirkan filsafat, manusia
menggunakan bahasa. Dalam usahannya untuk memahami alam semesta, yang kemudian
melahirkan ilmu pengetahuan, manusia menggunakan bahasa.
Sastra
juga di dukung oleh cerita dengan cerita orang lebih mudah tertarik, dan lebih
mudah mengemukakan gagasan dalam bentuk yang tidak normative. Cabang cabang
seni yang lain juga dapat menarik tenpa cerita akan tetapi sulit untuk
menggungkapkan gagasannya. Dalam music misalnya, kata kata penciptannya
tertelan oleh melodinya.
Seni
sangat memiliki peranan penting. Sebagai pencipta karya seni juga sangatlah
penting meski yang lebih penting adalah karyanya.
IBD adalah salah satu mata kuliah yang
diberikan dalam satu semester, sebagai bagian dart MKDU. IBD tidak dimaksudkan
untuk mendidik ahti-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang tennasuk didalam
pengetahuan budaya ( The Humanities ), Akan tetapi IBD semata-mata sebagai
salah satu usaha mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas
wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya. Pada
waktu menggunakan karya sastra, misalnya. Mahasiswa tidak perlu mengetahui sejarah
sastra, teori sastra, kritik sastra, dan sebaginya. Memang seperti
cabang-cabang the humanities lainnya, dalam Ilmu Budaya Dasar sastra tidak
diajatkan sebagai salah satu disiplin ilmu. Sastra disini digunakan sebagai
alat untuk membahas masalah-masalah kemanusiaan yang dapat membantu mahasiswa
untuk menjadi lebih humanus. Demikian juga filsafat, musik, seni rupa, dan
sebagainya.
3.2.
BUDAYA YANG DI HUBUNGKAN DENGAN PROSA
Prosa
adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme
(rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan
arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang
artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk
mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk
surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media
lainnya. Prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru.
Prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya
barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun.
Adapun unsur-unsur instrik dalam prosa:
Ø
Tema
adalah tentang apa prosa tersebut berbicara
Ø
Amanat
atau pesan yaitu nasehat yang hendak disampaikan kepada pembaca
Ø
Plot
atau alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita
Ø
Perwatakan
atau karakteristik atau penokohan adalah cara-cara pengarang menggambarkan
watak pelaku
Ø
Sudut
pandang adalah cara pengarang menempatkan diri
Ø
Sudut
pandang orang pertama adalah pengarang sebagai pelaku
Ø
Sudut
pandang orang ketiga adalah pengarang tidak menjadi pelaku
Ø
Latar
atau seting adalah gambaran atau keterangan mengenai tempat, waktu, situasi
atau suasana berlangsungnya peristiwa
Ø
Gaya
bahasa adalah corak pemakaian bahasa
Jenis – jenis Prosa
Prosa terbagi menjadi
Prosa lama dan prosa baru.
Jenis- jenis Prosa lama :
1.
Dongeng
Dongeng
merupakan cerita yang banyak diwarnai peristiwa yang tidak masuk akal atau
tidak mungkin terjadi. Contoh: Pangeran Buruk Rupa, Si Kancil dan Buaya
2.
Hikayat
Hikayat adalah
cerita karya sastra lama yang berbentuk riwayat yang mengisahkan hal-hal di
luar kenyataan yang berkembang di lingkungan istana
Ciri-ciri
Hikayat yaitu :
·
Bersifat
istana centris
·
Anonim(nama
pengarang tidak di cantumkan)
·
Berkembang
secara stetis
·
Bersifat
imajinatif,hanya bersifat khayal
·
Lisan,karena
di sebarkan lewat mulut ke mulut
·
Berbahasa
klise,meniru bahasa penutur sebelumnya
·
Bersifat
logis, menggunakan logika sendiri tidak sesuai dengan logika sendiri
3. Sejarah
4. Epos
5. Cerita pelupur lara
Jenis prosa baru :
1.
Cerita
pendek
2.
Roman
/ novel
3.
Biografi
4.
Kisah
5.
Otobiografi
3.3
NILAI NILAI DALAM PROSA FIKSI
Sebagai
seni yang bertulang punggung cerita, mau tidak mau karya sastra langsung atau
tidak langsung membawakan moral, pesan atau cerita. Berarti rosa mempunyai
nilai nilai yang di peroleh pembaca lewat sastra, antara lain :
a.
Prosa
fiksi memberikan kesenangan
b.
Prosa
fiksi memberikan informasi
c.
Prosa
fiksi memberikan warisan kultural
d.
Prosa
memberikan keseimbangan wawasan
Berkenaan dengan moral,
karya sastra dapat di bagi menjadi dua, yaitu :
Contoh prosa :
SERIBU KUNANG-KUNANG DI
MANHATTAN
Cerpen : Umar Kayam
Mereka duduk
bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas
martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.
“Bulan itu ungu, Marno.”
“Kau tetap hendak
memaksaku untuk percaya itu ?”
“Ya, tentu saja,
Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”
“Kalau bulan itu ungu, apa
pula warna langit dan mendungnya itu?”
“Oh, aku tidak ambil
pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang,
ungu!”
“Kuning keemasan!”
“Setan! Besok aku bawa kau
ke dokter mata.”
Marno berdiri, pergi ke
dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di
sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.
“Marno, Sayang.”
“Ya, Jane.”
“Bagaimana Alaska
sekarang?”
“Alaska? Bagaimana aku
tahu. Aku belum pernah ke sana.”
“Maksudku hawanya pada
saat ini.”
“Oh, aku kira tidak
sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”
“Mungkin juga. Aku tidak
pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska adalah satu
padang yang amat l-u-a-s dengan salju, salju dan salju.Lalu di sana-sini
rumah-rumah orang Eskimo bergunduk-gunduk seperti es krim panili.”
“Aku kira sebaiknya kau
jadi penyair, Jane. Baru sekarang aku mendengar perumpamaan yang begitu puitis.
Rumah Eskimo sepeti es krim panili.”
“Tommy, suamiku, bekas
suamiku, suamiku, kautahu …. Eh, maukah kau membikinkan aku segelas ….. ah, kau
tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu
campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri
lagi ini …. Uuuuuup ….”
Dengan susah payah Jane
berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol
beradu, terdengar berdentang-dentang.
Dari dapur, “bekas
suamiku, kautahu ….. Marno, Darling.”
“Ya, ada apa dengan dia?”
“Aku merasa dia ada di
Alaska sekarang.”
Pelan-pelan Jane berjalan
kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.
“Di Alaska. Coba
bayangkan, di Alaska.”
“Tapi Minggu yang lalu
kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas. atau mungkin di Arkansas.”
“Aku bilang, aku me-ra-sa
Tommy berada di Alaska.”
“Oh.”
“Mungkin juga dia tidak di
mana-mana.”
Marno berdiri, berjalan
menuju ke radio lalu memutar knopnya. Diputar-putarnya beberapa kali knop itu
hingga mengeluarkan campuran suara-suara yang aneh. Potongan-potongan lagu yang
tidak tentu serta suara orang yang tercekik-cekik. Kemudian dimatikannya radio
itu dan dia duduk kembali di sofa.
“Marno, Manisku.”
“Ya, Jane.”
“Bukankah di Alaska, ya,
ada adat menyuguhkan istri kepada tamu?”
“Ya, aku pernah mendengar
orang Eskimo dahulu punya adat-istiadat begitu. Tapi aku tidak tahu pasti
apakah itu betul atau karangan guru antropologi saja.”
“Aku harap itu betul. Sungguh,
Darling, aku serius. Aku harap itu betul.”
“Kenapa?”
“Sebab, seee-bab aku tidak
mau Tommy kesepian dan kedinginan di Alaska. Aku tidak maaau.”
“Tetapi bukankah belum
tentu Tommy berada di Alaska dan belum tentu pula sekarang Alaska dingin.”
Jane memegang kepala Marno
dan dihadapkannya muka Marno ke mukanya. Mata Jane memandang Marno tajam-tajam.
“Tetapi aku tidak mau
Tommy kesepian dan kedinginan! Maukah kau?”
Marno diam sebentar.
Kemudian ditepuk-tepuknya tangan Jane.
“Sudah tentu tidak, Jane,
sudah tentu tidak.”
“Kau anak yang manis,
Marno.”
Marno mulai memasang rokok
lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di
sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya
bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu
belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu
membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa
senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.
“Marno.”
“Ya, Jane.”
“Aku ingat Tommy pernah
mengirimi aku sebuah boneka Indian yang cantik dari Oklahoma City beberapa
tahun yang lalu. Sudahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”
“Aku kira sudah, Jane.
Sudah beberapa kali.”
“Oh.”
Jane menghirup martini-nya
empat hingga lima kali dengan pelan-pelan. Dia sendiri tidak tahu sudah gelas
yang keberapa martini dipegangya itu.
Lagi pula tidak seorang
pun yang memedulikan.
“Eh, kau tahu, Marno?”
“Apa?”
“Empire State Building
sudah dijual.”
“Ya, aku membaca hal itu
di New York Times.”
“Bisakah kau membayangkan
punya gedung yang tertinggi di dunia?”
“Tidak. Bisakah kau?”
“Bisa, bisa.”
“Bagaimana?”
“Oh, tak tahulah. Tadi aku
kira bisa menemukan pikiran-pikiran yang cabul dan lucu. Tapi sekarang tahulah
….”
Lampu-lampu yang berkelipan
di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno
pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di
desa.
“Oh, kalau saja …..”
“Kalau saja apa,
Kekasihku?”
“Kalau saja ada suara
jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana.”
“Lantas?”
“Tidak apa-apa. Itu kan
membuat aku lebih senang sedikit.”
“Kau anak desa yang
sentimental!”
“Biar!”
Marno terkejut karena kata
“biar” itu terdengar keras sekali keluarnya.
“Maaf, Jane. Aku kira scotch
yang membuat itu.”
“Tidak, Sayang. Kau merasa
tersinggung. Maaf.”
Marno mengangkat bahunya
karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas
maaf itu.
Sebuah pesawat jet
terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane.
“Jet keparat!”
Jane mengutuk sambil
berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras
membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya
segelas air es.
“Aku merasa segar
sedikit.”
Jane merebahkan badannya
di sofa, matanya dipejamkan, tapi kakinya disepak-sepakkannya ke atas.
Lirih-lirih dia mulai menyanyi : deep blue sea, baby, deep blue sea, deep blue
sea, baby, deep blue sea ……
“Pernahkah kau punya
keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu
membiarkan badanmu tenggelam dalaaammm sekali di dasar laut yang teduh itu,
tetapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam
sebuah sampan?”
“He? Oh, maafkan aku
kurang menangkap kalimatmu yang panjang itu. Bagaimana lagi, Jane?”
“Oh, lupakan saja. Aku
Cuma ngomong saja. Deep blue sea, baby, deep blue, deep blue sea, baby, deep
blue sea ….”
“Marno.”
“Ya.”
“Kita belum pernah
jalan-jalan ke Central Park Zoo, ya?”
“Belum, tapi kita sudah
sering jalan-jalan ke Park-nya.”
“Dalam perkawinan kami
yang satu tahun delapan bulan tambah sebelas hari itu, Tommy pernah mengajakku
sekali ke Central Park Zoo. Ha, aku ingat kami berdebat di muka kandang kera.
Tommy bilang chimpansee adalah kera yang paling dekat kepada manusia, aku
bilang gorilla. Tommy mengatakan bahwa sarjana-sarjana sudah membuat
penyelidikan yang mendalam tentang hal itu, tetapi aku tetap menyangkalnya
karena gorilla yang ada di muka kami mengingatkan aku pada penjaga lift kantor
Tommy. Pernahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”
“Oh, aku kira sudah, Jane.
Sudah beberapa kali.”
“Oh, Marno, semua ceritaku
sudah kau dengar semua. Aku membosankan, ya, Marno? Mem-bo-san-kan.”
Marno tidak menjawab
karena tiba-tiba saja dia merasa seakan-akan istrinya ada di dekat-dekat dia di
Manhattan malam itu. Adakah penjelasannya bagaimana satu bayang-bayang yang
terpisah beribu-ribu kilometer bisa muncul begitu pendek?
“Ayolah, Marno. Kalau kau
jujur tentulah kau akan mengatakan bahwa aku sudah membosankan. Cerita yang
itu-itu saja yang kau dengar tiap kita ketemu. Membosankan, ya?
Mem-bo-san-kan!”
“Tapi tidak semua ceritamu
pernah aku dengar. Memang beberapa ceritamu sudah beberapa kali aku dengar.”
“Bukan beberapa, Sayang.
Sebagian besar.”
“Baiklah, taruhlah
sebagian terbesar sudah aku dengar.”
“Aku membosankan jadinya.”
Marno diam tidak mencoba
meneruskan. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskannya lagi asapnya
lewat mulut dan hidungnya.
“Tapi Marno, bukankah aku
harus berbicara? Apa lagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku
kira Manhattan tinggal tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya
kalau salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang
terdampar di satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”
Jane memejamkan matanya
dengan dadanya lurus-lurus telentang di sofa. Sebuah bantal terletak di
dadanya. Kemudian dengan tiba-tiba dia bangun, berdiri sebentar, lalu duduk
kembali di sofa.
“Marno, kemarilah, duduk.”
“Kenapa? Bukankah sejak
sore aku duduk terus di situ.”
“Kemarilah, duduk.”
“Aku sedang enak di
jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.”
“Kunang-kunang?”
“Ya.”
“Bagaimana rupa
kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat.”
“Mereka adalah lampu suar
kecil-kecil sebesar noktah.”
“Begitu kecil?”
“Ya. Tetapi kalau ada
beribu kunang-kunang hinggap di pohon pinggir jalan, itu bagaimana?”
“Pohon itu akan jadi
pohon-hari-natal.”
“Ya, pohon-hari-natal.”
Marno diam lalu memasang
rokok sebatang lagi. Mukanya terus menghadap ke luar jendela lagi, menatap ke
satu arah yang jauh entah ke mana.
“Marno, waktu kau masih
kecil ….. Marno, kau mendengarkan aku, kan?”
“Ya.”
“Waktu kau masih kecil,
pernahkah kau punya mainan kekasih?”
“Mainan kekasih?”
“Mainan yang begitu kau
kasihi hingga ke mana pun kau pergi selalu harus ikut?”
“Aku tidak ingat lagi,
Jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau
kakekku, si Jilamprang.”
“Itu bukan mainan, itu
piaraan.”
“Piaraan bukankah untuk
mainan juga?”
“Tidak selalu. Mainan yang
paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom.”
“Siapa dia?”
“Dia boneka hitam yang
jelek sekali rupanya. Tetapi aku tidak akan pernah bisa tidur bila Uncle Tom
tidak ada di sampingku.”
“Oh, itu hal yang normal
saja, aku kira. Anakku juga begitu. Punya anakku anjing-anjingan bernama
Fifie.”
“Tetapi aku baru berpisah
dengan Uncle Tom sesudah aku ketemu Tommy di High School. Aku kira, aku ingin
Uncle Tom ada di dekat-dekatku lagi sekarang.”
Diraihnya bantal yang ada
di sampingnya, kemudian digosok-gosokkannya pipinya pada bantal itu. Lalu
tiba-tiba dilemparkannya lagi bantal itu ke sofa dan dia memandang kepala Marno
yang masih bersandar di jendela.
“Marno, Sayang.”
“Ya.”
“Aku kira cerita itu belum
pernah kaudengar, bukan ?”
“Belum, Jane.”
“Bukankah itu ajaib?
Bagaimana aku sampai lupa menceritakan itu sebelumnya.”
Marno tersenyum
“Aku tidak tahu, Jane.”
“Tahukah kau? Sejak sore
tadi baru sekarang kau tersenyum. Mengapa?”
Marno tersenyum
“Aku tidak tahu, Jane.
Sungguh.”
Sekarang Jane ikut
tersenyum.
“Oh, ya, Marno, manisku.
Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku.”
“Apakah itu, Jane?”
“Piyama. Aku telah belikan
kau piyama, tadi. Ukuranmu medium-large, kan? Tunggu, ya ……”
Dan Jane, seperti seekor
kijang yang mendapatkan kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh,
melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah
berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan.
“Aku harap kausuka
pilihanku.”
Dibukanya bungkusan itu
dan dibeberkannya piyama itu di dadanya.
“Kausuka dengan pilihanku
ini?”
“Ini piyama yang cantik,
Jane.”
“Akan kau pakai saja malam
ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama.”
Marno memandang piyama
yang ada di tangannya dengan keraguan.
“Jane.”
“Ya, Sayang.”
“Eh, aku belum tahu apakah
aku akan tidur di sini malam ini.”
“Oh? Kau banyak kerja?”
“Eh, tidak seberapa
sesungguhnya. Cuma tak tahulah ….”
”Kaumerasa tidak enak
badan?”
“Aku baik-baik saja. Aku
…. eh, tak tahulah, Jane.”
“Aku harap aku mengerti,
Sayang. Aku tak akan bertanya lagi.”
“Terima kasih, Jane.”
“Terserahlah. Cuma aku
kira, aku tak akan membawanya pulang.”
“Oh”.
Pelan-pelan dibungkusnya
kembali piyama itu lalu dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Pelan-pelan Jane
keluar kembali dari kamarnya.
“Aku kira, aku pergi saja
sekarang, Jane.”
“Kau akan menelpon aku
hari-hari ini, kan?”
‘Tentu, Jane.”
“Kapan, aku bisa
mengharapkan itu?
“Eh, aku belum tahu lagi,
Jane. Segera aku kira.”
“Kautahu nomorku kan?
Eldorado”
“Aku tahu, Jane.”
Kemudian pelan-pelan
diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah
Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun
tangga.
Di kamarnya, di tempat tidur
sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah.
3.4
ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBNGKAN DENGAN PUISI
Puisi merupakan suatu seni sastra dan tidak
ada hubungannya dengan IBD tapi seni sastra juga merupakan bagian dari kesenian
dan kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan
Puisi
adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenai kehidupan manusia, alam, tuhan
melalui media bahasa yang artistik/estetik, yang secara padu dan utuh di
padatkan kata-katanya.dalam kata lain puisi merupakan ungkapan jiwa dari penulisnya.
Puisi dapat menggambarkan
apa saja yang ingin disampaikan oleh penulis. kepuitisan, keartistikan atau
keestetikan bahasa puisi disebabkan oleh kreativitas penyair dalam membangun
puisinya dengan menggunakan: Figura bahasa, seperti gaya personifikasi,
metafora, perbandingan, alegori, dsb.
Kata-kata yang ambiquitas,
yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
Kata-kata
yang berjiwa, yaitu kata-kata yang sudah di beri suasana tertentu, berisi
perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
Kata-kata yang konotatif,
yaitu kata-kata yang sudah di beri tambahan nilai-nilai rasa dan
asosiasi-asosiasi tertentu.
Pengulangan,
yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang di lukiskan, sehingga lebih
menggugah hati.
beberapa alasan mengapa
puisi dikaitkan dengan Ilmu Budaya
Dasar:
1.Karena puisi merupakan
bagian dari kesenian dan kesenian merupakan unsur kebudayaan
2.Puisi mencerminkan
budaya si penulis
3.Puisi memiliki berbagai
gaya bahasa dan bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan
contoh puisi :
PADAMU JUA
habis kikis
segala cintaku hilang
terbang
pulang kembali akan padamu
seperti dulu
kaulah kandil kemerlap
pelita jendela dimalam
gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu
satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa
dimana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati
engkau cemburu
engkau ganas
mangsa aku dalam cakarmu
bertungkar tangkap dengan
lepas
nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik angin
serupa dara di balik tirai
kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu bukan giliranku
matahari bukan kawanku..
Pustaka:
(sumber : Buku MKDU Ilmu
Budaya Dasar Oleh : Widyo Nugroho, Achmad Muchji penerbit gunadarma)
No comments:
Post a Comment