BAB II MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Manusia dan
kebudayaan merupakan dua hal yang sangat erat terkait satu sama lain. Dalam
pembahasan awal mengenai mata kuliah IBD kita sudah bicarakan bahwa hal kedua
tersebut merupakan dasar bagi pembahasan materi selanjutnya. Dalam uraian ini
kita akan membahas tentang pengertian dasar tentang manusia dan kebudayaan.
2.1 Manusia
Manusia
adalah makhluk ciptaan tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk
kepada aturan hukum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, mati,
dan seterusnya, serta terkait dan berinteraksi dengan alam dan lingkungannya
dalam sebuah hubungan timbal balik positif maupun negatif.
Manusia atau
orang dapat diartikan dari sudut pandang yang berbeda-beda, baik itu menurut biologis, rohani, dan istilah
kebudayaan, atau secara campuran. secara biologis, manusia diklasifikasikan
sebagai homo sapiens (bahasa latin untuk manusia) yang merupakan sebuah spesies
primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Manusia juga
sebagai mahkluk individu memiliki pemikiran-pemikiran tentang apa yang
menurutnya baik dan sesuai dengan tindakan-tindakan yang akan diambil. Manusia
pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya
dengan lingkungan dan tempat tinggalnya.
Manusia di
alam dunia ini memegang peranan yang unik. Dan dapat di pandang dari banyak
segi. Dalam ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai kumpulan dari
partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki
oleh manusia (ilmu kimia). Manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem
fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energy
(ilmu fisika). Manusia merupakan mahkluk biologis yang tergolong dalam golongan
mahkluk mamalia (biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial manusia merupakan mahkluk
yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan,
sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi). Manusia merupakan mahkluk sosial
yang tidak dapat berdiri sendiri(sosiologi). mahkluk yang selalu ingin
mempunyai kekuasaan (politik), mahkluk yang berbudaya, sering disebut
homo-humanus (filsafat) dan lain sebagainya.
Ada dua
pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsure-unsur
yang membangun manusia :
1) Manusia terdiri dari empat unsur yang saling
terkait, yaitu :
a. Jasad, yaitu badan kasar manusia yang
Nampak pada luarnya, dapat diraba dan difoto, dan menempati ruang dan waktu
b. Hayat, yaitu mengandung unsur hidup, yang ditandai
dengan gerak
c. Ruh, yaitu bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang
bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan pencipta yang
bersifat konseptual yang jadi pusat lahirnya kebudayaan
d. Nafs, yaitu kesadaran tentang diri sendiri
2) Manusia sebagai satu kepribadian
mengandung tiga unsur, yaitu :
a.
Id, yang merupakan struktur kepribaadian yang paling primitif dan paling tidak nampak. Id merupakan libido
murni, atau energy psikis yang menunjukan cirri alami yang irrasional dan
terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses
ketidaksadaran (unconcius). Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri,
tetapi terkait dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi
mediator antara insting Id dengan dunia luar.
b.
Ego, merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali di bedakan
dari Id, sering kali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena perannya
dalam menghubungkan energy Id kedalam saluran sosial yng dapat dimengerti oleh
oaring lain. Perkembangan ego terjadi antara usia satu dan dua tahun, pada saat
anak secara nyata berhubungan dengan lingkungannya. Ego diatur oleh prinsip
realitas, ego sadar akan tuntunan lingkungan luar, dan mengatur tingkah lau
sehingga dorongan instingtual Id dapat dipuaskan dengan cara yang dapat
diterima.
c.
Superego, meruoakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira
pada usia 5 tahun. Dibandingan dengan Id dan Ego, yang berkembang secara
internal dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal.
Jadi superego merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego
dari sejumlah agen yang mempunyai otoritas di dalam lingkungan luar diri.
2.2 Hakekat Manusia
a. Mahkluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari
tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tumbuh adalah
materi yang dapat dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak abadi.
Jika manusia itu meninggal, tubunhnya hancur dan lenyap. Jiwa terdapat di dalam
tubuh, tidak dapat dilihat,tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi abadi,
jika manusia meninggal jiwanya lepas dari tubuh dan kembali keasalnya yaitu
Tuhan, dan jiwa tidak mengalami kehancuran. Jiwa adalah roh yang ada di dalam
tubuh manusia sebagai peenggerak dan sumber kehidupan.
b. Mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna,
jika dibandingkan dengan mahkluk lainnya.
Manusia dilengkapi oleh penciptannya dengan
akal, perasaan, dan kehendak yang terdapat dalam jiwa manusia. Dengan akal
(ratio) manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adanya nilai
baik dan buruk, mengharuskan manusia dan mempertimbangkan, menilai dan
berkehendakmenciptakan kebenaran, keindahan, kebaikan atau sebaliknya.
Selanjutnya dengan adanya perasaan, manusia mampu menciptakan kesenian.
Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya
:
i.
Perasaan intelektual, yaitu perasaan yang
berkenan dengan pengetahuan.
ii.
Perasaan estetis, yaitu perasaan yang berkenan
dengan keindahan
iii.
Perasaan etis, yaitu perasaan yang berkenan
dengan kebaikan
iv.
Perasaan diri, yaitu perasaan yang berkeknan
dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain
v.
Perasaan sosial, yaitu perasaan yang berkenan
dengan kelompok atau korp atau hidup bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan
orang lain
vi.
Perasaan religius, yaitu perasaan yang berkenan
dengan agama atau kepercayaan
c. Mahkluk biokultural, yaitu mahkluk hayati
dan budayawi
Manusia adalah
produk dari saling tindak atu interaksi faktor-faktor hayati dan budayawi.
Swebagai mahkluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi anatomi, fisiologi
atau faal, biokimia, psikobiologi, patalogi, genetika, biodemografi, evolusi
biologisnya, dan kemasyarakatannya, kekerabatan, psikologi sosial, kesenian,
ekonomi, perkakas,bahasa, dan sebagainya.
Manusia sebagai
makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan
akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup
manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia
yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang
berhak menyandang gelar manusia berbudaya .
Manusia memiliki
tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk lainnya, manusia juga memiliki akal
yang dapat memperhitungkan tindakannya melalui proses belajar yang
terus-menerus. Oleh karena itu manusia harus bersosialisasi dengan lingkungan,
yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial. Sehingga
norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis dan seimbang. Agar hasil
dari pendidikan, yakni kebudayaan dapat diimplementasikan dimasyaakat.
Pendidikan
sebagai hasil kebudayaan haruslah dipandang sebagai motivator terwujudnya
budaya yang tinggi. Selain itu pendidikan haruslah memberikan kontribusi
terhadap kebudayaan, agar kebudayaan yang dihasilkan memberi nilai manfaat bagi
manusia itu sendiri khususnya maupun bagi bangsa pada umumnya.
Dengan demikian
dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan
kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang
tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil
dari pendidikan suatu bangsa.
2.3 Kepribadian Bangsa Timur
Kepribadian
Bangsa Timur merupakan suatu karakter yang mencerminkan masyarakat yang
menganut budaya dari Timur (Asia & Timur-Tengah), yang menunjukkan ke khasan
dan pola pikir dan kebiasaan yang terdapat di daerah Timur. Kepribadian bangsa
timur pada umumnya merupakan kepribadian yang mempunyai sifat tepo seliro atau
memiliki sifat toleransi yang tinggi. Dalam berdemokrasi bangsa timur umumnya
aktif dalam mengutarakan aspirasi rakyat. Seperti di negara Korea, dalam
berdemokrasi mereka duduk sambil memegang poster protes dan di negara Thailand,
mereka berdemokrasi dengan tertib dan damai. Kepribadian bangsa timur juga
identik dengan tutur kata yang lemah lembut dan sopan dalam bergaul maupun
dalam berpakaian. Terdapat ciri khas dalam berbagai negara yang mencerminkan
negara tersebut memiliki suatu kepribadian yang unik. Misalnya masyarakat
Indonesia khususnya daerah Jawa. Sebagian besar mereka bertutur kata dengan
lembut dan sopan. Dan terdapat beberapa aturan atau larangan yang tidak boleh
dilakukan menurut versi orang dulu yang sebenarnya menurut orang Jawa itu suatu
nasihat yang membangun. Misalnya tidak boleh duduk di depan pintu. Hal tersebut
merupakan ciri khas kepribadian yang unik. Bangsa timur juga memiliki
kebudayaan yang masih kental dari negara atau daerah masing-masing. Masih ada
adat-adat atau upacara tertentu yang masih dilaksanakan oleh bangsa timur.
Misalnya bangsa Indonesia masih banyak yang melaksanakan upacara-upacara adat
dan tarian khas dari masing-masing daerah. Contohnya daerah Bali yang masih
melaksanakan tarian khas daerahnya yaitu tarian pendet, kecak, tarian barong.
2.4 Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan
berasal darikata kultur yang dalam kata Latin adalah cultura (kata kerjanya,
colo,colore) dan artinya memelihara atau mengerjakan, mengolah. Pengertianini
berkembang menjelang abad 18 melalui karangan Herder tentangsejarah semesta,
Ideen zur Geschichte der Menscheit, dan terutamakarangan Klem berjudul
Allgemeine Culturgesschichte der Menscheit.Dalam analisa kedua tokoh ini
perkataan kultur atau kebudayaan dalamarti yang modern mendapat arti tingkat
kemajuan, yaitu tingkat pengerjaanatau pengolahan yang dicapai manusia pada
suatu ketika dalam perjalanansejarah.Lebih jauh Alisjahbana menyebutkan bahwa
terdapat 7 (tujuh)penggolongan defenisi kebudayaan, yakni pertama
menekankankenyataan, bahwa kebudayaan itu adalah suatu keseluruhan
yangkompleks, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti
pengetahuan,kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala
kecakapan yanglain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kedua,menekankan sejarah kebudayaan, yang memandang kebudayaan sebagaiwarisan
sosial atau tradisi. Ketiga, menekankan segi kebudayaan yangnormatif, yakni
kebudayaan sebagai cara, aturan dan jalan hidup manusia. Disini juga ditekankan
cita-cita, nilai-nilai dan kelakukan. Keempat,pendekatan secara Psikologi,
kebudayaan sebagai penyesuaian manusiakepada sekitarnya. Dalam hal ini, Summer
dan Keller yang menekankanpenyesuaian manusia pada keadaan dan syarat-syarat
hidupnya.Sedangkan Kroeber dan Kluckhohn menekankan usaha belajar danpembiasaan
serta defenisi yang bersifat psikologi murni yang dirumuskandalam istilah
psiko-analisis dan psikologi sosial. Kelima, menekankan halhalyang bersifat
struktur yang membicarakan pola-pola dan organisasikebudayaan. Keenam,
kebudayaan dipahami sebagai hasil perbuatan ataukecerdasan manusia. Grover
merumuskan kebudayaan sebagai hasilpergaulan atau perkumpulan manusia. Dalam
hal ini juga ditekankanpikiran-pikiran dan lambang-lambang. Ketujuh merupakan
defenisidefenisiyang tidak lengkap dan tidak bersistem.Alisjahbana maupun
Koentjaraningrat mengakui bahwa banyaksekali defenisi-defenisi kebudayaan yang
mengacu pada suatu disiplinilmu tertentu, bukan saja antropologi, tetapi juga
sosiologi, filsafat, sejarahmaupun kesusasteraan. Berdasarkan ilmu Antroplogi,
Koentjaraningratmendefenisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakandan
hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yangdijadikan milik diri
manusia dengan belajar.
Kebudayaan
culture, dalam kata Sanskerta adalah buddhayah, dalambentuk jamak dari buddhi
yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan
hal-hal yang bersangkutan dengan akal, ataudaya dari budi. Zoetmulder juga
melihat kodrat manusia dengan akalbudinya merupakan titik tolak
kebudayaan.Selanjutnya, Soerjanto Poespowardojo dalam memaknai
kebudayaanmenegaskan bahwa:Kebudayaan adalah identitas suatu bangsa. Dengan
demikian,jelaslah bahwa kebudayaan bukan sekedar pakaian, melainkanhidup yang
memolakan setiap sikap dan perbuatan berdasarkannilai yang dihayati. Kebudayaan
di satu pihak adalah ciptaanpribadi-pribadi manusia, namun juga merupakan
ciptaan seluruhmasyarakat, karena seseorang tidak mungkin menciptakan
karyabudayanya tanpa pengaruh dan pembentukan dari masyarakat,dimana dia
dibesarkan. Maka, kebudayaan adalah keseluruhanwarisan yang dilanjutkan dari
generasi yang satu ke generasiseterusnya.Stephen K. Sanderson tidak melihat
kebudayaan sebagai pewarisansecara biologis, tetapi ”kebudayaan sebagai
keseluruhan karakteristik paraanggota sebuah masyarakat, termasuk peralatan,
pengetahuan, dan caraberpikir dan cara bertindak yang telah terpolakan, yang
dipelajari dandisebarkan serta bukan merupakan hasil dari pewarisan
biologis.Sanderson membagi empat karakteristik utama kebudayaan,
pertama,kebudayaan mendasarkan diri pada simbol. Simbol sangat esensial
bagikebudayaan, karena ia merupakan mekanisme yang diperlukan untukmenyimpan
dan mentransmisikan sejumlah besar informasi yangmembentuk kebudayaan. Kedua,
kebudayaan itu dipelajari dan tidaktergantung kepada pewarisan biologis dalam
transmisinya. Ketiga,kebudayaan adalah sistem yang dipikul bersama oleh anggota
suatu masyarakat, yakni, ia merupakan representasi dari para anggotamasyarakat
yang dipandang secara kolektif daripada individual.
2.5 Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur Kebudayaan
adalah komponen-komponen pokok yang menjadi pembentuk suatu kebudayaan.Apakah
kebudayaan itu? Untuk mengetahui dan mengenal apakah itu Kebudayaan silah baca
artikel tentang pengertian dan definisi Budaya dan Kebudayaan di sini .
Kebudayaan secara garis besar dapat di definisikan sebagai hasil cipta, rasa
dan karsa manusia yang dilakukan secara sadar dalam kehidupan masyarakat.
• Cipta adalah kemampuan akal
pikiran yang menghasilkan ilmupengetahuan
• Rasa adalah kemampuan indra
yang mendorong manusia unuk mengembangkan rasa keindahan yang melahirkan karya-karya
seni yang agung
• Karsa adalah kehendak manusia
terhadap adanya kesempurnaan hidup, kemuliaan dan kebahagiaan
Berdasarkan
pengertian dan definisi diatas tentang kebudayaan, maka dapat diketahui bahwa
secara umum kebudayaan memiliki 7 unsur penting yang menjadi komponen pokok
pembentuk kebudayaan, yaitu:
Tujuh unsur kebudayaan yaitu :
1. Unsur
peralatan dan erlengkapan hidup, seperti: rumah, pakaian, kendaraan, dll
2. Unsur mata
pencaharian / perekonomian, seperti pegawai, petani, buruh, dll
3. Unsur
sistem kemasyarakatan, yang meliputi: hukum, kekerabatan, perkawinan, dll
4. Unsur
bahasa baik lisan maupun tulisan yang berfungsi sebagai alat komunikasi
5. Unsur
Kesenian, seperti seni tari, seni musik , seni rupa, dll
6. unsur ilmu
pengetahuan dan teknologi
7. Unsur agama
dan kepercayaan
2.6 Wujud Kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman (dalam
Koentjaraningrat, 1986), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan,
aktivitas, dan artefak.
1. Gagasan (Wujud ideal) Wujud
ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,
nilai-nilai , norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak ;
tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam
kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat . Jika masyarakat
tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari
kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para
penulis warga masyarakat tersebut.
2. Artefak (karya) Artefak adalah
wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya
semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga
wujud kebudayaan.
3. Aktivitas (tindakan) Aktivitas
adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem
sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi ,
mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola
tertentu yang ber- dasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret , terjadi
dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
Pada
kenyataannya, kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak
bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud
kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan
karya (artefak) manusia. Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan
atas dua komponen utama, yaitu kebudayaan material dan kebudayaan non-
material. Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata,
konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang
dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan,
senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang,
seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar
langit, dan mesin cuci. Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak
yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita
rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
2.7 Orientasi Nilai Budaya
Marilah kita
menyadari, kebudayaan bukanlah kreasionisme. Kebudayaan melakukan banyak penyimpangan
dari desain besar yang ingin mengendalikannya. Sudah saatnya menganggap selesai
perdebatan tentang orientasi utama dan bentuk terakhir kebudayaan Indonesia.
Setiap orang secara potensial adalah pencipta kebudayaan.
Maka menjadi
wajar kebudayaan modern melahirkan kebudayaan destrukrif misalnya berupa
demonstrasi, bahkan anarkis menjadi bagian kebudayaan orang-orang yang merasa
dirugikan (contoh : demo buruh dan karyawan menuntut perbaikan upah untuk
memenuhi kebutuhan kesejahteraannya). Kesejahteraan buruh sangat ditentukan
oleh kepemilikan kapital (kebudayaan materialisme). Maka peran pemerintah
sebagai penentu kebudayaan yang seharusnya mensejahterakan rakyat menjadi
bergeser sebagai penjaga keamanan, ujung-ujungnya demi capital juga pemerintah
melakukan represi dan penindasan kepada rakyat yang tidak menguntungkan
kebijakannya. Pemerintah menjadi agen bagi pemilik modal raksasa (baca: ekonomi
sebagai panglima), misalnya dalam kasus Freeport dan masyarakat Timika yang
terbelakang pendidikannya.
Pendidikan Pasar
Paradigma
kebudayaan modern telah menjadikan dunia spiritual termasuk seni dan agama
cukup sebagai komoditi yang perlu diperhitungkan dengan nilai harga jualnya.
Pendidikan mahal menjadi keniscayaan karena kebutuhan sarana dan prasarana menjadi
penting, termasuk pula teknologi pendidikan menjadi ukuran kualitas lembaga
pendidikan yang mendunia. Keberhasilan transformasi ilmu guru kepada murid juga
diukur dari penguasaan peralatan mengajar yang digunakan gurunya.
”Globalisaasi”,
Dulu notebook bermakna buku sekarang bermakna laptop, artinya teknologi telah
mampu merubah makna kata dari pemahaman konsumennya. Pemahaman konsumen
ternyata mudah dibentuk oleh produsen atau bahasa lokal telah dikalahkan oleh
bahasa global. Dalam konteks kebudayaan, bahasa Indonesia telah tercerabut dari
akarnya dan selanjutnya image kepada guru yang tidak menguasai teknologi
dianggap ketinggalan, atau mungkin diragukan kemampuan mengajarnya. Maka
sekolah atau lembaga pendidikan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk melatih
guru-guru menggunakan teknologi modern.yang belum tentu bisa, karena tidak
memiliki perangkat sendiri yang mahal harganya. Apalagi guru-guru “tradisi”
seperti Umar Bakri (simak lagu ciptaan Iwan Fals). Mungkin lebih tepat
guru-guru melagukan Song theme “Hous For Sale” By Bule.
Kebudayaan Alternatif
Namun untuk
kembali ke tradisi sudah tidak mungkin lagi, kecuali mencari pijakan kebudayaan
pendidikan baru yang dinamis namun tidak bergantung pada biaya tinggi.
Pembelian produk teknologi yang berkembang cepat dan menuntut konsumen untuk
terus mengikuti, tentu saja berat kecuali Indonesia menjadi negara produsen
teknologi tinggi. Untuk ini kita tidak bisa percaya pada ramalan para ahli
globalisasi. Di dalam zaman kita ini, kenyataan bukanlah hal yang mudah
ditangkap. Kenyataan adalah fragmentasi dari kebudayaan yang telah
terbelah-belah oleh kekuatan ekonomi (mass culture). Dalam hal ini, selera
pasar menjadi penting untuk diperhitungkan lagi. Kesejahteraan guru haruslah
dilihat sebanding dan sejajar dengan pendapatan selebrities.Tujuan kebudayaan
tak lain untuk kemajuan dan kesejahteraan hidup manusia di mana saja dan
sebagai apa saja. (Surat kepercayaan gelanggang 1960: Kami adalah pewaris sah
kebudayaan dunia).
Sejuta Milyar Satuan
Kawan, peran apa yang kau berikan
untuk mengisi kemerdeekaan ini?
Pernyataan puitis tersebut di
atas, mempertegas bahwa posisi kebudayaan sesungguhnya berada pada diri kita
masing-masing sebagai pelaku (seleksi terhadap pengaruh asing dalam lingkup
“kebudayaan”). Kebudayaan saling-silang (baca kebudayaan tarik-ulur) lalu
melahirkan kebudayaan post-modern yang muncul dan kemudian dianggap gagal
karena merancukan keyakinan beragama bagi masyarakat (umat) penganutnya. Oleh
karena itu, sebagai jawaban kita pasti bersepakat dengan Islam, misalnya ayat
136 surat Al Baqarah yang jelas menyatakan:
Katakanlah :”Kami beriman kepada
Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami Ismail, Ishak, Yakub dan anak
cucunya (kami beriman) kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan kepada
apa yang diberikan kepada para nabi dari tuhanNya. Kami tiada membeda-bedakan
satu dari lainnya dari antara mereka dan kami menyerahkan diri kepada Allah”.
2.8 Perubahan Kebudayaan
Perubahan
dirasakan oleh hampir semua manusia dalam masyarakat. Perubahan dalam
masyarakat tersebut wajar, mengingat manusia memiliki kebutuhan yang tidak
terbatas. Kalian akan dapat melihat perubahan itu setelah membandingkan keadaan
pada beberapa waktu lalu dengan keadaan sekarang. Perubahan itu dapat terjadi
di berbagai aspek kehidupan, seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata
pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, serta
religi/keyakinan.
Perubahan sosial
merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup
semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan
lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial
masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan
perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis
perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 1990).
Perubahan
kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial. Pendapat tersebut
dikembalikan pada pengertian masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat adalah
sistem hubungan dalam arti hubungan antar organisasi dan bukan hubungan antar
sel. Kebudayaan mencakup segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul
karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran
secara simbolik dan bukan warisan karena keturunan (Davis, 1960). Apabila
diambil definisi kebudayaan menurut Taylor dalam Soekanto (1990), kebudayaan
merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
hukum adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga
masyarakat, maka perubahan kebudayaan dalah segala perubahan yang mencakup
unsur-unsur tersebut. Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial
dan perubahan kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut
paut dengan suatu cara penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam
cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya.
Banyak faktor
yang menyebabkan budaya lokal dilupakan dimasa sekarang ini, misalnya masuknya
budaya asing. Masuknya budaya asing ke suatu negara sebenarnya merupakan hal
yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun
pada kenyataannya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya lokal mulai
dilupakan.
Faktor lain yang
menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan
budaya lokal. Budaya lokal adalah identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa,
budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat
diakui oleh negara lain. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan budaya
asing masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena suatu negara juga
membutuhkan input-input dari negara lain yang akan berpengaruh terhadap
perkembangan di negranya.
Dimasa sekarang
ini banyak sekali budaya-budaya kita yang mulai menghilang sedikit demi
sedikit.Hal ini sangatlah berkaitan erat dngan masuknya budaya-budaya ke dalam
budaya kita.Sebagai contoh budaya dalam tata cara berpakaian.Dulunya dalam
budaya kita sangatlah mementingkan tata cara berpakaian yang sopan dan
tertutup.Akan tetapi akaibat masuknya budaya luar mengakibatkan budaya tersebut
berubah.Sekarang berpakaian yang menbuka aurat serasa sudah menjadi kebiasaan
yang sudah melekat erat didalam masyarakat kita.Sebagai contoh lain jenis-jenis
makanan yang kita konsumsi juga mulai terpengaruh budaya luar.Masyarakat
sekarang lebih memilih makanan-makanan yang berasal dari luar seperti
KFC,steak,burger,dan lain-lain.Masyarakat menganggap makanan-makanan tersebut
higinis,modern,dan praktis.Tanpa kita sadari makanan-makanan tersebut juga
telah menjadi menu keseharian dalam kehidupan kita.Hal ini mengakibatkan makin
langkanya berbagai jenis makanan tradisional.Bila hai ini terus terjadi maka
tak dapat dihindarkan bahwa anak cucu kita kelak tidak tahu akan jenis-jenis
makanan tradisional yang berasal dari daerah asal mereka.
Tugas utama yang harus dibenahi
adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewarisi budaya
lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan
megharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya budaya asli negara kita tidak
diklaim oleg negara lain.Berikut beberapa hal yang dapat kita simak dalam
rangka melestarikan budaya.
1. Kekuatan
Ø
Keanekaragaman budaya lokal yang ada di
Indonesia
Indonesia memiliki keanekaragaman
budaya lokal yang dapatdijadikan sebagai ke aset yang tidak dapat disamakan
dengan budaya lokal negara lain. Budaya lokal yang dimiliki Indonesia
berbeda-beda pada setiap daerah. Tiap daerah memiliki ciri khas budayanya,
seperti rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat
yang dianut. Semua itu dapat dijadikan kekuatan untuk dapat memperkokoh
ketahanan budaya bangsa dimata Internasional.
Ø
Kekhasan budaya Indonesia
Kekhasan budaya lokal yang
dimiliki setiap daerah di Indonesia memliki kekuatan tersediri. Misalnya rumah
adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat yang dianut.
Kekhasan budaya lokal ini sering kali menarik pandangan negara lain. Terbukti
banyaknya turis asing yang mencoba mempelajari budaya Indonesia seperti belajar
tarian khas suat daerah atau mencari barang-barang kerajinan untuk dijadikan
buah tangan. Ini membuktikan bahwa budaya bangsa Indonesia memiliki cirri khas
yang unik.
Ø
Kebudayaan Lokal menjadi sumber ketahanan budaya
bangsa
Kesatuan budaya lokal yang
dimiliki Indonesia merupakan budaya bangsa yang mewakili identitas negara
Indonesia. Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta diwarisi dengan
baik agar budaya bangsa tetap kokoh.
2. Kelemahan
Ø
Kurangnya kesadaran masyarakat
Kesadaran masyarakat untuk
menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih
memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai dengan perkembangan zaman,
tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya
lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak
meningalkan cirri khas dari budaya tersebut.
Ø
Minimnya komunikasi budaya
Kemampuan untuk berkomunikasi
sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman tentang budaya yang dianut.
Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan perselisihan antarsuku yang
akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.
Ø
Kurangnya pembelajaran budaya
Pembelajaran tentang budaya,
harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak
menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran
budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya
bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengan perkembangan
zaman.
3. Peluang
Ø
Indonesia dipandang dunia Internasional karena
kekuatan budayanya
Apabila budaya lokal dapat di
jaga dengan baik, Indonesia akan di pandang sebagai negara yang dapat
mempertahankan identitasnya di mata Internasioanal.
Ø
Kuatnya budaya bangsa, memperkokoh rasa
persatuan
Usaha masyarakat dalam
mempertahankan budaya lokal agar dapat memperkokoh budaya bangsa, juga dapat
memperkokoh persatuan. Karena adanya saling menghormati antara budaya lokal
sehingga dapat bersatu menjadi budaya bangsa yang kokoh.
Ø
Kemajuan pariwisata
Budaya lokal Indonesia sering
kali menarik perhatian para turis mancanegara. Ini dapat dijadikan objek wisata
yang akan menghasilkan devisa bagi negara. Akan tetapi hal ini juga harus
diwaspadai karena banyaknya aksi pembajakan budaya yang mungkin terjadi.
Ø
Multikuturalisme
Dalam artikelnya, Dekan Fakultas
Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, Riau, Dr Junaidi SS MHum, mengatakan
bahwa multikulturalisme meberikan peluang bagi kebangkitan etnik dan kudaya
lokal Indonesia. Dua pilar yang mendukung pemahaman ini adalah pendidikan
budaya dan komunikasi antar budaya.
4. Tantangan
Ø
Perubahan lingkungan alam dan fisik
Perubahan lingkungan alam dan
fisik menjadi tantangan tersendiri bagi suatu negara untuk mempertahankan
budaya lokalnya. Karena seiring perubahan lingkungan alam dan fisik, pola piker
serta pola hidup masyakrkat juga ikt berubah
Ø
Kemajuan Teknologi
Meskipun dipandang banyak
memberikan banyak manfaat, kemajuan teknologi ternyata menjadi salah satu
factor yang menyebabkan ditinggalkannya budaya lokal. Misalnya, sistem sasi
(sistem asli masyarakat dalam mengelola sumber daya kelautan/daratan) dikawasan
Maluku dan Irian Jaya. Sistem sasi mengatur tata cara sertamusim penangkapan
iakn di wilayah adatnya, namun hal ini mulai tidak di lupakan oleh
masyarakatnya.
Ø
Masuknya Budaya Asing
Masuknya budaya asing menjadi
tantangan tersendiri agar budaya lokal tetap terjaga. Dalam hal ini, peran
budaya lokal diperlukan sebagai penyeimbang di tengah perkembangan zaman.
Perubahan budaya dan arus globalisasi
mengakibatkan beberapa budaya tersingkirkan
Perubahan budaya
yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat
tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat
homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak
dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia
secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah
menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa
cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga
melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan
massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian
terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang
bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll
melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang
bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat
Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui
kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya
di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa
negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam
globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa transkultural seperti
itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal
kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional
yang perlu dijaga kelestariannya.
Di saat yang
lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita
disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih
beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian
tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan
hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi
yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional
Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam
masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis
Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan
perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang
hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan
globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian
yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai
tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua
kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih
menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus
tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi
komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga
alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya
masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional
yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian
tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata
Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat
disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional
Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu
agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah
kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang
ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh
kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi
fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan
juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di
Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati
begitu saja dengan merebaknya globalisasi.
Di sisi lain,
ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan
fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri
dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat,
misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca
oleh kelompok Srimulat. Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak
sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan
dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk
pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah
terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain ketoprak masih ada
kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi
mutakhir yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki
Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset
rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun
televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit
setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap
salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap
mempertahankan eksistensi dari kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan
mengadakan pagelaran wayang kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran
musik gamelan tiap satu minggu atau satu bulan sekali yang diadakan di aula
Kertarajasa, Museum Nasional.
2.9 Kaitan Manusia Dan Kebudayaan
Manusia dan
kebudayaan merupakan dua hal yang sangat erat terkait satu sama lain. Manusia
di alam dunia ini mememgang peran yang unik, dan dapat di pandang dari berbagai
segi. Dalam ilmu sosial manusia merupakan makhluk yang ingin memperoleh
keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan sering disebuthomo
economicus (ilmu ekonomi). Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat
berdiri sendiri (sosialofi), makhluk yang selalu ingin memiliki kekuasaan
(politik), makhluk yang berbudaya dan lain sebagainya.
Contoh hubungan manusia dengan
kebudayaan
1. Secara sederhana hubungan antara manusia
dan kebudayaan adalah : manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan
merupakan obyek yang dilaksanakan manusia, tetapi apakah sederhana itu hubungan
keduannya? Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya
bahwa walaupun keduannya berbeda tetapi keduannya merupakan satu kesatuan.
Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta maka
kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduannya
akhirnnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat
adalah hubungan anatara manusia dengan peraturan – peraturan kemasyarakatnya.
Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi
maka yang membuatnya harus patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari
kebudayaan, karena kebudayaan itu merupkan perwujudan dari manusia itu sendiri.
Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan
tidak akan jauh menyimpang dari kemauaan manusia yang membuatnya. Apabila
anusia melupakan bahwa masyarakat adalah ciptaaan manusia, dia akan menjadi
terasing atau telinasi.
2. Manusia dan kebudayaan atau manusia dan
masyarakat oleh karna itu memiliki hubungan keterkaitan yang erat satu sama
lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak bisa lagi membedakan mana yang lebih
awal muncul manusi atau kebudayaan.
Analisa terhadap keberadaan keduannya harus menyertakan pembatasan
masalah dan waktu agar analisis dapat dilakukan dengan lebih cermat.
Daftar Pustaka
(sumber : Buku MKDU Ilmu Budaya
Dasar Oleh : Widyo Nugroho, Achmad Muchji penerbit gunadarma)
No comments:
Post a Comment